Refleksi Hari Pariwisata Sedunia: NTT Berharap Lebih dari Sekadar Destinasi Foto
Sumber Foto: floresku.com
Latar Redaksi

Refleksi Hari Pariwisata Sedunia: NTT Berharap Lebih dari Sekadar Destinasi Foto

Setiap tanggal 27 September, masyarakat global merayakan Hari Pariwisata Sedunia. Peringatan ini, yang ditetapkan oleh UNWTO pada tahun 1980, bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk merenungkan dampak pariwisata terhadap manusia, lingkungan, dan budaya lokal. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), refleksi ini menjadi semakin relevan.

Flores dan pulau-pulau di sekitarnya sering disebut sebagai "museum hidup". Istilah ini diperkenalkan oleh antropolog Paul Arndt SVD untuk menggambarkan kekayaan budaya, tradisi, dan arsitektur yang masih terjaga. Namun, di balik keindahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah pariwisata di NTT telah memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat lokal ataukah hanya menjual eksotisme kepada pengunjung?

Lanskap Pariwisata yang Kaya Cerita

Bumi Flobamora memiliki banyak cerita yang belum sepenuhnya terungkap. Di Manggarai Barat, wisatawan dapat menikmati keindahan hamparan sawah jaring laba-laba dan tarian Caci yang sarat makna. Di Kabupaten Manggarai, Gua Liang Bua menyimpan misteri manusia purba, sementara di Ngada, gunung Ine Rie dan kampung tua Bena menawarkan pesona alam dan budaya yang memikat.

Wisatawan juga dapat menyaksikan pertarungan tinju adat dan ritual mistik di Nagekeo, serta keindahan Danau Kelimutu di Ende. Kabupaten Sikka dan Flores Timur menawarkan pengalaman budaya yang unik, termasuk Semana Santa di Larantuka dan tradisi berburu ikan paus di Lembata. Sumba, Timor, Alor, dan Rote juga memiliki daya tarik tersendiri yang tak kalah menarik dibandingkan Bali atau destinasi wisata internasional lainnya.

Tantangan yang Dihadapi

Namun, meskipun memiliki potensi yang besar, pengembangan pariwisata di NTT masih menghadapi sejumlah tantangan. Seorang pegiat pariwisata menyebutkan bahwa meski pariwisata memiliki kekuatan, dukungan infrastruktur seperti jalan, jaringan internet, dan sanitasi masih minim. Hal ini menciptakan kesenjangan antara destinasi populer seperti Labuan Bajo dengan desa-desa wisata lainnya yang masih mengandalkan homestay sederhana.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, sekitar 1,09 juta penduduk NTT, atau 18,6 persen dari total populasi, masih hidup dalam kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pariwisata berkembang, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal.

Membangun Ketangguhan Lokal

Di tengah tantangan tersebut, masyarakat lokal menunjukkan ketangguhan mereka. Banyak kelompok pemuda mulai merintis tur berbasis komunitas dan mengelola homestay. Di Manggarai Timur, program ekowisata muncul sebagai alternatif ekonomi, dan Desa Wisata Wae Lolos mencatatkan kunjungan yang signifikan berkat pengelolaan yang berbasis masyarakat.

Data dari Dinas Pariwisata NTT menunjukkan adanya 1.637 destinasi wisata yang tersebar di 22 kabupaten/kota, dengan lebih dari 1,5 juta wisatawan yang mengunjungi NTT pada tahun 2024. Ini menandakan bahwa NTT semakin diperhitungkan dalam peta pariwisata nasional.

Dilema Keberlanjutan

Namun, pertumbuhan angka kunjungan tidak dapat menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Pengamat pariwisata Richard Butler mengingatkan bahwa tanpa regulasi yang baik, destinasi baru berisiko mengalami over-tourism dan degradasi budaya. NTT perlu mencari cara untuk mendorong pertumbuhan wisata tanpa mengorbankan budaya dan alam.

Suara masyarakat lokal, seperti pemandu desa dan ibu penenun, harus didengar dalam pengambilan keputusan terkait pariwisata. Dukungan terhadap desa-desa adat, akses yang lebih baik, dan pelatihan bagi masyarakat lokal dapat menjadikan pariwisata sebagai sumber kehidupan yang bermartabat.

Menuju Masa Depan yang Berkelanjutan

Hari Pariwisata Sedunia seharusnya menjadi momentum untuk NTT melakukan refleksi mendalam. Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah apakah manfaat pariwisata dirasakan oleh masyarakat lokal, apakah budaya dijaga atau dijual, dan bagaimana alam dirawat atau dikonsumsi.

Dengan pengelolaan yang bijaksana, NTT berpotensi menjadi model pariwisata berkeadilan, yang menyeimbangkan antara alam, budaya, dan kesejahteraan. Saat dunia menoleh ke timur, NTT dapat tampil sebagai "bumi yang makmur nan sejahtera", di mana industri pariwisata memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga dan menjaga martabat manusia serta lingkungan secara berkelanjutan.