Menulis Tetap Berjalan Saat Puasa: Hobi yang Menjadi Terapi
Latar Media - Entah mulai kapan saya mengikrarkan diri secara sadar bahwa menulis adalah satu-satunya hobi saya. Karena selama ini, terutama dua tahun belakangan ini memang saya benar-benar tidak pernah berhenti menulis. Setiap hari meskipun sedang berpuasa, hobi menulis tetap jalan.
Ketika puasa, minimal harus ada satu tulisan yang lahir, kecuali dalam keadaan yang terlalu darurat dan tidak memungkinkan saya melakukannya.
Setiap pagi saya akan sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaan rumah, agar bisa segera duduk di depan laptop dan menuangkan ide/gagasan yang sudah berkumpul di kepala. Lantas menayangkannya di flatform Kompasiana atau di web saya sendiri: ruangpena.id. Sesekali saya mengirimkannya ke beberapa media online lain.
Menulis Bukan Hanya Sekadar Hobi
Namun menulis bagi saya bukan sekedar hobi. Lebih dari itu, menjadi penulis adalah cita-cita yang memang dibangun sejak saya kecil. Banyaknya buku bacaan yang dihadirkan oleh ayah dan ibu di rumah, membuat saya memiliki kesenangan untuk menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Menulis bukan hanya sebuah pekerjaan, bukan hanya sebuah hobi, bukan pula sekadar rutinitas yang dilakukan untuk menumpahkan ide dan gagasan.
Bagi saya, menulis adalah obat. Ia adalah sebuah terapi yang bisa membantu saya menghilangkan penat, meluapkan kekesalan, bahkan mencaci maki seseorang yang saya benci dan menjadikannya tokoh yang mungkin dibenci semua pembaca dalam cerita fiksi yang saya buat.
Terdengar berlebihan memang. Akan tetapi untuk saya tipe orang yang gak enakkan dan tidak bisa mengungkapkan emosi secara langsung kepada orang yang dimaksud, menulis adalah marah dan ungkapan kekesalan yang paling sopan yang bisa saya lakukan. Tanpa harus terlihat buruk dan emosian dan tanpa kesan kalah dalam sebuah perselisihan.
Ya, mungkin Itulah bukti dari pernyataan bahwa, "Jangan pernah menyakiti hati seorang penulis jika namamu tidak ingin abadi dalam tulisannya."
Hobi Menulis Membuahkan Banyak Keuntungan
Menulis dan melanjutkan hobi, ternyata membuahkan banyak keuntungan. Mulai dari memiliki banyak kenalan, bisa mengisi pelatihan tentang kepenulisan, melayani pesanan jasa tulisan sampai dengan panggilan menjadi juri perlombaan.




