Perseteruan Thailand dan Kamboja: Sejarah Candi Preah Vihear Sejak Abad ke-15
Sumber Foto: Maklumat.id
Latar Redaksi

Perseteruan Thailand dan Kamboja: Sejarah Candi Preah Vihear Sejak Abad ke-15

Perseteruan antara Thailand dan Kamboja mengenai kepemilikan Candi Preah Vihear telah berlangsung selama lebih dari 500 tahun. Konflik ini bermula setelah runtuhnya Kekaisaran Khmer pada tahun 1431, ketika pasukan Siam, yang kini dikenal sebagai Thailand, menyerbu ibu kota Angkor Thom.

Candi Preah Vihear, yang dibangun untuk menghormati Dewa Siwa, terletak di puncak Pegunungan Dangrek dan merupakan contoh arsitektur Khmer yang menakjubkan. Situs ini terdiri dari serangkaian tempat suci yang dihubungkan oleh sistem tangga dan trotoar sepanjang 800 meter. Meskipun kompleks candi ini berasal dari abad ke-11, sejarah keagamaannya bisa ditelusuri hingga abad ke-9 saat pertama kali difungsikan sebagai tempat pertapaan.

Keunikan Arsitektur Candi

Letak candi yang terpencil berkontribusi pada pelestariannya yang baik. Arsitektur Candi Preah Vihear tidak hanya menarik dari segi teknik bangunan, tetapi juga artistik, dengan dekorasi batu pahat yang merupakan salah satu yang terbaik dari masa kejayaan Khmer. Pada tahun 2008, Kamboja mengajukan Candi Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, namun langkah ini justru memicu konflik baru.

Konflik dan Ketegangan

Thailand memprotes pendaftaran tersebut karena mencakup area di sekitar candi yang masih disengketakan. Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) telah memutuskan pada tahun 1962 bahwa Candi Preah Vihear sah milik Kamboja, lokasi geografisnya yang lebih mudah diakses dari Thailand menciptakan ketegangan. Putusan ICJ berdasarkan peta kolonial Prancis tahun 1907, yang menunjukkan garis batas yang menempatkan candi sepenuhnya di wilayah Kamboja.

Ketika pemerintah Kamboja mengajukan situs tersebut ke UNESCO, gelombang protes muncul di Thailand. Pemerintah Thailand saat itu, yang dipimpin oleh Samak Sundaravej, awalnya mendukung pengajuan Kamboja, namun kemudian menarik dukungannya setelah tekanan politik meningkat. Demonstrasi oleh kelompok nasionalis di Thailand semakin memperburuk situasi.

Ketegangan puncak terjadi pada Juli 2008, sehari setelah UNESCO mengakui Preah Vihear sebagai warisan budaya dunia, ketika baku tembak antara pasukan kedua negara menewaskan dan melukai beberapa tentara.

Nilai Universal Candi Preah Vihear

Di tengah ketegangan ini, nilai universal Candi Preah Vihear sering kali terabaikan. UNESCO menilai candi ini memenuhi Kriteria (i) sebagai mahakarya arsitektur Khmer yang luar biasa. Keaslian material, struktur bangunan, dan bentuk simbolik candi tetap terjaga, meskipun beberapa wilayah sekelilingnya mengalami gangguan integritas. Perlindungan hukum dan pengelolaan kawasan ini terus ditingkatkan, dengan rencana pengelolaan komprehensif yang sedang difinalisasi.

Politik dan Diplomasi

Sayangnya, pemimpin politik di Bangkok dan Phnom Penh sering kali menjadikan sejarah Preah Vihear sebagai alat politik. PM Kamboja, Hun Sen, bahkan menunjuk Thaksin Shinawatra, yang merupakan musuh politik PM Thailand Abhisit Vejjajiva, sebagai penasihat ekonomi, yang semakin memanas situasi.

Simbol Budaya dan Perdamaian

Pengamat menilai bahwa sejarah yang kompleks sering kali disederhanakan menjadi narasi nasionalisme yang sempit. Masyarakat di sekitar Preah Vihear memiliki akar budaya dan leluhur yang sama, dan seharusnya candi ini dapat menjadi simbol penyatuan budaya, bukan medan konflik.

Candi Preah Vihear kini tidak hanya berfungsi sebagai situs keagamaan, tetapi juga sebagai medan diplomasi dan simbol identitas. Dalam pandangan banyak pihak, situs suci ini diharapkan dapat menjadi jembatan perdamaian antara kedua negara, bukan penyebab pertumpahan darah.