Perang Bani Nadhir: Latar Belakang dan Kronologi Peristiwa
Sumber Foto: Kompas.com
Latar Redaksi

Perang Bani Nadhir: Latar Belakang dan Kronologi Peristiwa

Perang Bani Nadhir merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada tahun 4 Hijriah atau 625 Masehi. Perang ini melibatkan kaum muslimin dan kaum Yahudi di Madinah, khususnya dari kelompok Bani Nadhir.

Latar Belakang Perang

Sejak kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah, beliau telah menyusun Piagam Madinah yang berfungsi sebagai perjanjian persaudaraan antara berbagai golongan masyarakat, termasuk kaum Muhajirin, Ansor, dan Yahudi. Piagam ini menetapkan hak dan kewajiban masing-masing pihak dan diterima oleh seluruh warga Madinah sebagai konstitusi bersama.

Namun, ketegangan mulai muncul ketika Bani Nadhir melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian tersebut. Dalam buku Sejarah Islam Klasik karya Susmihara dan Rahmat, dijelaskan bahwa Bani Nadhir terlibat dalam berbagai gerakan yang bertujuan untuk menghancurkan umat Islam dan mengusir mereka dari Madinah. Mereka juga membocorkan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan umat Islam kepada kaum Quraisy, serta terlibat dalam serangkaian tindakan agresif, termasuk percobaan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Kronologi Perang

Awalnya, Bani Nadhir tidak ingin terlibat dalam pertempuran karena menyadari perbedaan kekuatan yang signifikan dengan pasukan muslim. Mereka berencana untuk meninggalkan Madinah. Namun, keputusan ini berubah setelah mendapat hasutan dari Abdullah bin Ubai, seorang tokoh munafik Yahudi, yang menjanjikan dukungan dari Bani Quraizhah dan Bani Ghatafan.

Dengan adanya harapan akan bantuan, Bani Nadhir memutuskan untuk bertahan di benteng mereka. Pasukan muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW mulai melakukan pengepungan terhadap benteng Bani Nadhir pada bulan Rabiul Awal, tahun 4 Hijriah. Pengepungan ini berlangsung selama enam hari.

Pada hari keenam, ketika Bani Nadhir tidak melihat tanda-tanda kedatangan bantuan dari Bani Quraizhah dan Bani Ghatafan serta menghadapi kekurangan pasokan makanan, mereka akhirnya mengakui kekalahan. Nabi Muhammad SAW menerima pernyataan kalah mereka dan memberikan izin untuk meninggalkan Madinah dengan membawa harta benda mereka, kecuali emas, perak, dan senjata.

Kemenangan umat muslim dalam Perang Bani Nadhir tidak hanya menyingkirkan kelompok Yahudi yang dianggap pengkhianat, tetapi juga memperkuat posisi Islam di Madinah.