Menulis Sebagai Refleksi Diri di Bulan Ramadan
Sumber Foto: Kompasiana.com
Lifestyle

Menulis Sebagai Refleksi Diri di Bulan Ramadan

Latar Media - Banyak hal yang telah saya dapat dari hobi menulis. Bukan cuma soal merangkai kata, tapi tentang menemukan diri sendiri di antara baris demi baris kalimat.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan, banyak pula kawan dan relasi yang saya kenal dari menulis. Jujur, ada cuan dari hasil menulis, ada pula kebanggaan dan penghargaan yang pernah saya raih.

Namun, lebih dari sekadar hobi, menulis adalah cara saya berdialog dengan waktu. Kadang jadi terapi, pengingat, dan tentunya jadi ruang aman untuk berekspresi.

Bulan Ramadan justru menjadikan hobi menulis semakin bermakna. Setiap kata yang tertuang terasa seperti bentuk refleksi diri yang lebih dalam.

Banyak platform yang bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan hobi menulis ini. Dari sekedar caption singkat untuk postingan di Instagram maupun Threads, melanjutkan proyek e-book, hingga menulis di platform Kompasiana.com.

Terlebih, sudah menjadi tradisi ketika Kompasiana.com memberikan tantangan menulis sebulan penuh di bulan Ramadan. Inilah event yang sayang untuk dilewatkan untuk terus mengasah hobi menulis.

Tantangan yang menajamkan intuisi menulis. Saat raga berjuang menahan lapar, hati justru terasa lebih peka untuk menangkap hikmah.

Ya, dengan tema yang beragam dan menarik, event Ramadan Bercerita di Kompasiana.com sejatinya membuat saya terus berpikir dan merangsang untuk mengembangkan kreativitas setiap harinya.

Biasanya sehari sebelumnya saya sudah menyiapkan bahan tulisan untuk tema yang diberikan keesokan harinya. Usai santap sahur, saya merapikan tulisan lagi dan kemudian menayangkan tulisan tersebut.

Barangkali saya, dan setiap peserta lainnya, memang berharap mendapatkan hadiah-hadiah yang luar biasa dari event ini, termasuk hadiah utama tiket umroh ke tanah suci dan perjalanan ke Addis Ababa, Ethiopia.