Keluarga Siswa SD di NTT Diduga Terpaksa Akhiri Hidup karena Keterbatasan Ekonomi
Latar Media - Siswa sekolah dasar berinisial YBS, berusia 10 tahun, di Nusa Tenggara Timur diduga mengakhiri hidupnya setelah tidak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10 ribu. Kejadian ini mencerminkan tantangan serius dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dasar di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Awal Kejadian
YBS berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi sangat terbatas. Ibunya, berinisial MGT, seorang janda yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, harus menghidupi lima anak sendirian setelah suaminya meninggal dunia saat YBS masih dalam kandungan. Keterbatasan finansial membuat kebutuhan dasar keluarga sering kali sulit dipenuhi.
Perkembangan
Untuk meringankan beban ibunya, YBS tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana di kebun. Meskipun YBS dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, dan rajin belajar, ia jarang memperlihatkan kesedihan. Permintaan YBS kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi akibat keterbatasan ekonomi yang ada.
Kondisi Terakhir
Kepergian YBS meninggalkan luka mendalam bagi komunitas desa, yang mengenalnya sebagai anak yang berprestasi di sekolah. Warga setempat merasa terpukul oleh peristiwa ini, yang menunjukkan dampak dari kesulitan ekonomi terhadap pendidikan anak-anak di daerah tersebut.




