Kekerasan Sistematis di Era Soeharto: Penolakan Gelar Pahlawan Nasional
JAKARTA – Penindasan yang terjadi di bawah rezim Soeharto meluas tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga menjangkau wilayah Timor Leste, Aceh, dan Papua. Kekerasan yang sistematis ini kini kembali menjadi sorotan publik seiring dengan usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan presiden tersebut.
Kania Mamonto dari AJAR Indonesia menjelaskan bahwa di bawah kepemimpinan Soeharto, militer Indonesia terlibat dalam sejumlah tindakan kekerasan, termasuk pembunuhan terhadap Nicolau dos Reis Lobato, Presiden kedua Timor Leste. Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai Presiden Indonesia, dilaporkan merupakan salah satu prajurit yang terlibat dalam operasi tersebut.
“Soeharto mengambil ribuan anak-anak kecil yang kami sebut sebagai 'stolen children' dari Timor Leste, memisahkan mereka dari keluarga, dan memindahkan mereka ke Indonesia dengan dalih pendidikan. Namun, ini sebenarnya merupakan bentuk penundukan,” ungkap Kania dalam konferensi pers yang diadakan pada Senin (3/11/2025) dan disiarkan di kanal YouTube KontraS.
Lebih lanjut, Kania menambahkan bahwa pemerkosaan dijadikan strategi penundukan, dengan sedikitnya 400 perempuan menjadi korban yang harus hidup dengan stigma yang mengikutinya sampai saat ini di Timor Leste.
Di Aceh, rezim Soeharto menguasai sumber daya alam, seperti Arun yang dikelola oleh Mobil Oil, untuk kepentingan elit Jakarta dan memperkaya keluarga Cendana, tanpa memberikan manfaat yang signifikan kepada rakyat Aceh. Operasi militer yang dilakukan untuk meredam gerakan Aceh Merdeka menyebabkan terjadinya kekerasan struktural secara masif.
“Kami mendorong publik untuk mengakses laporan terbaru dari Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh berjudul ‘Mengenang Radame’ untuk mendapatkan data lebih lanjut,” tambah Kania.
Sementara itu, di Papua, eksploitasi oleh Freeport serta manipulasi dalam Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) menjadi catatan kelam lainnya dari era tersebut. Penindasan terhadap ekspresi identitas orang Papua juga menjadi isu yang tak kalah penting.
Bedjo Untung, seorang korban dari Tragedi 65, mengungkapkan temuan kuburan massal yang tersebar di 360 titik dari Sumatera, Jawa, hingga Bali. “Di Jarak Malam, terdapat 40 perempuan anggota Lekra dan Gerwani yang mengalami pelecehan seksual selama empat bulan berturut-turut oleh aparat. Ini bukanlah omong kosong,” tegasnya.
Dokumen CIA yang kini telah dibuka untuk publik juga mengonfirmasi keterlibatan Amerika Serikat dalam penghancuran Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penggulingan Presiden Soekarno, dengan memberikan bantuan sebesar 50 juta dolar untuk organisasi paramiliter. Bedjo menyebutkan bahwa korban yang dibunuh dalam peristiwa tersebut diperkirakan tidak kurang dari 500 ribu hingga 3 juta jiwa, sesuai dengan pernyataan Sarwo Edhie.




