Kedudukan Capres dalam Bayang-Bayang Skandal Partai Demokrat
Dalam dunia hiburan, penari latar sering kali berperan sebagai figuran yang mengiringi penampilan penyanyi utama. Mereka tampil sesekali dan cenderung tidak mendapatkan perhatian yang sama dengan sang penyanyi. Fenomena serupa tampaknya terjadi di pentas politik Indonesia, khususnya menjelang Pemilu 2014, di mana para calon presiden dari Partai Demokrat diibaratkan sebagai penari latar dalam konvensi partai tersebut.
Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens, pernah menyatakan bahwa peserta Konvensi Demokrat hanyalah penari latar, bukan pemain utama dalam pemilihan umum. Pernyataan ini mencerminkan pandangan skeptis terhadap kemampuan Partai Demokrat untuk meraih suara signifikan dalam pemilu mendatang, apalagi setelah partai ini terjerat dalam berbagai skandal korupsi.
Partai Demokrat, yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebelumnya optimis dapat meraih minimal 20 persen suara pemilih sesuai dengan ketentuan Undang-Undang tentang Pemilu. Untuk itu, mereka menggelar konvensi yang diharapkan dapat menjaring calon presiden terbaik, baik dari internal maupun eksternal partai.
Namun, di balik konvensi tersebut, ada aturan internal yang menyatakan bahwa Majelis Tinggi Partai memiliki kewenangan untuk menetapkan calon presiden, terlepas dari hasil konvensi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan keadilan dalam proses pemilihan calon.
Beberapa peserta konvensi, seperti Dino Patti Djalal, merasa adanya keberpihakan dalam proses tersebut dan mengancam untuk mundur. Situasi ini menunjukkan ketidakpuasan di kalangan calon yang berpartisipasi dalam konvensi, di tengah persepsi bahwa hasil akhir sudah ditentukan sebelumnya.
Dengan semakin banyaknya skandal yang melibatkan elit Partai Demokrat, kredibilitas partai ini semakin dipertanyakan. Beberapa pengamat memprediksi bahwa perolehan suara Partai Demokrat dalam Pemilu 2014 bisa jatuh di bawah 10 persen, bahkan mungkin tidak mencapai ambang batas parlemen.
Dalam konteks ini, nasib para calon presiden yang diibaratkan sebagai penari latar menjadi semakin tidak pasti. Apakah mereka akan terus bertarung dalam konvensi, ataukah mereka akan menguap dari panggung politik? Pertanyaan ini menjadi sangat relevan di tengah kondisi partai yang terus terpuruk akibat skandal dan hilangnya kepercayaan publik.




