Biografi Bung Tomo: Riwayat Hidup dan Perjuangannya
Sumber Foto: Gramedia
Latar Redaksi

Biografi Bung Tomo: Riwayat Hidup dan Perjuangannya

Pengantar

Bung Tomo, atau Sutomo, adalah sosok pahlawan yang dikenal luas di Indonesia, terutama di Surabaya. Berperan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, ia dikenal karena kepemimpinannya dalam Pertempuran 10 November 1945. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi riwayat hidup dan perjuangan Bung Tomo sebagai simbol perlawanan rakyat Indonesia.

Riwayat Keluarga

Sutomo lahir di Kampung Blauran, Surabaya pada 3 Oktober 1920, sebagai anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya, Kartawan Tjiptowidjojo, berasal dari kalangan menengah dan memiliki latar belakang pekerjaan yang beragam, sementara ibunya, Subastita, memiliki keturunan campuran Jawa, Sunda, dan Madura. Sutomo menikah dengan Sulistina pada 19 Juni 1947 dan dikaruniai empat anak.

Karier Awal

  • Anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia Kelas I.
  • Sekretaris Partai Indonesia Raya (Parindra) di Surabaya (1937).
  • Wartawan lepas Harian Soeara Oemoem (1937).
  • Redaktur Mingguan Pembela Rakyat (1938).
  • Kepala kelompok sandiwara Pemuda Indonesia Raya (1939).
  • Wakil pemimpin redaksi Kantor Berita Domei (1942-1945).
  • Pemimpin redaksi Kantor Berita Antara (1945).

Peran dalam Masa Revolusi (1945-1949)

Pada masa revolusi, Bung Tomo menjabat sebagai Ketua Umum Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dan anggota Dewan Penasihat Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ia dilantik sebagai Mayor Jenderal TNI Angkatan Darat dan berperan dalam koordinasi angkatan perang. Bung Tomo juga bertanggung jawab dalam pembuatan siaran pengumuman untuk memanggil rakyat masuk ke militer.

Perjuangan dalam Pertempuran 10 November 1945

Pertempuran 10 November 1945 dimulai dengan kedatangan pasukan Sekutu di Surabaya. Insiden perobekan bendera Belanda dan ultimatum dari Mayor Jenderal Robert Mansergh memicu ketegangan yang berujung pada pertempuran besar. Bung Tomo, melalui pidatonya yang mengobarkan semangat, mendorong rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pidato Bung Tomo yang terkenal dengan pekik “Allahu akbar! Merdeka!” menjadi simbol perjuangan rakyat. Ia juga memanfaatkan radio untuk mengajak pemuda dan santri bergabung dalam pertempuran serta meminta dukungan internasional.

Kehidupan Setelah Perjuangan

Setelah perang, Bung Tomo berkarier sebagai Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata dan menjadi anggota Konstituante. Namun, ia mulai menarik diri dari dunia politik setelah ketidakpuasan terhadap kebijakan Soekarno. Pada masa Orde Baru, ia sempat ditangkap karena kritik terhadap pemerintah, sebelum akhirnya memilih untuk fokus pada keluarganya.

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional

Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah saat menjalankan ibadah haji. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel Surabaya. Gelar Pahlawan Nasional diberikan secara resmi pada tahun 2008, mengakhiri polemik mengenai statusnya sebagai pahlawan.

Kesimpulan

Riwayat hidup dan perjuangan Bung Tomo mencerminkan semangat juang rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Kita dapat menghargai jasa-jasanya dengan meneladani sikap dan tindakan yang ditunjukkannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.