Yayasan Amai Setia: Sejarah dan Perannya dalam Pemberdayaan Perempuan
Latar Belakang Yayasan Amai Setia
Yayasan Amai Setia didirikan pada tanggal 11 Februari 1911 di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat. Yayasan ini merupakan inisiatif Ruhana Kuddus, seorang tokoh pendidikan perempuan, bersama dua rekannya, Ratna Putri dan Hadisah. Tujuan utama dari pendirian yayasan ini adalah untuk memberdayakan perempuan melalui pendidikan keterampilan.
Fokus Pendidikan Keterampilan
Yayasan Amai Setia menawarkan berbagai kursus keterampilan yang dirancang khusus untuk perempuan, termasuk menjahit, bordiran, menyulan, merenda bangku, dan bertenun. Melalui program-program ini, yayasan berupaya meningkatkan kualitas hidup perempuan dengan memberikan mereka keahlian yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk menciptakan peluang ekonomi.
Kehidupan dan Inspirasi Ruhana Kuddus
Ruhana Kuddus, pendiri yayasan, dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap pendidikan sejak usia dini. Ketertarikan Ruhana pada dunia literasi dimulai saat ia berusia delapan tahun, di mana ia sudah mulai membaca buku. Pada masa itu, di Simpang Tonang Tolu, Minangkabau, akses pendidikan bagi perempuan sangat terbatas.
Ruhana memperoleh kemampuan membaca dan menulis dari ajaran orang tuanya. Kesadaran akan minimnya pendidikan bagi anak perempuan mendorongnya untuk beraksi. Pada usia 17 tahun, ketika tinggal bersama neneknya, Ruhana belajar keterampilan menjahit, menyulam, dan menganyam. Hal ini semakin memotivasi Ruhana untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan.
Perkembangan Yayasan
Dengan semangat yang tinggi, Ruhana mendirikan kelas kecil di kamar neneknya, di mana ia mengajarkan keterampilan menulis, menjahit, menyulam, merenda, dan menenun. Awalnya, hanya ada beberapa perempuan yang menghadiri kelas tersebut, namun seiring waktu, jumlah peserta semakin meningkat. Tak hanya perempuan, ibu-ibu dan anak-anak lelaki yang tidak bersekolah juga mulai bergabung dalam kegiatan ini.
Warisan dan Dampak Sosial
Saat ini, Yayasan Amai Setia tetap bertahan dan berfungsi sebagai wadah bagi pengrajin perak dan sulam di Koto Gadang. Dengan sejarah dan kontribusi yang signifikan dalam pemberdayaan perempuan, yayasan ini terus menjadi simbol harapan dan perubahan dalam masyarakat setempat.




