Transformasi Komunikasi Pendidikan di Era Digital
Ingat nggak sih, dulu waktu jaman sekolah, kalau ada yang nggak ngerti pelajaran pasti langsung angkat tangan terus tanya ke guru? Atau waktu kuliah, pasti ada aja temen yang bisik-bisik di belakang minta dijelasin lagi soal yang barusan dijelasin dosen. Nah, sekarang coba lihat kondisi sekarang. Mahasiswa lebih sering ngetik pertanyaan di grup WhatsApp daripada ngomong langsung. Guru kirim materi lewat WAG, siswa submit tugas lewat email. Bahkan diskusi kelompok sekarang lebih sering terjadi di Zoom daripada di perpustakaan.
Ada yang salah? Belum tentu. Tapi yang jelas, ada yang berubah. Dan perubahannya lumayan drastis.
Dari Kapur Tulis ke Layar Sentuh
Kalau dipikir-pikir, perjalanan komunikasi di dunia pendidikan kita itu kayak naik roller coaster. Dulu, ruang kelas adalah satu-satunya tempat terjadinya transfer ilmu. Guru berdiri di depan papan tulis, siswa duduk rapi dengan buku catatan. Komunikasi mengalir dalam satu arah: dari mulut guru ke telinga siswa, kadang diselingi pertanyaan kalau ada yang berani angkat tangan.
Terus muncullah era komputer. Mulai tahun 1980-an, komputer masuk ke sekolah-sekolah di Indonesia untuk urusan administrasi. Baru di tahun 1992, Literasi Komputer dijadikan mata pelajaran. Fast forward ke 2020, pandemi COVID-19 datang seperti buldoser yang mengubah segalanya dalam semalam. Yang tadinya cuma pelengkap, tiba-tiba jadi kebutuhan utama.
Kemendikbud mengeluarkan surat edaran yang mengubah skema pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring di semua tingkatan pendidikan. Mau nggak mau, siap nggak siap, semua harus beradaptasi. Dan hasilnya? Kita sekarang hidup di era di mana komunikasi digital bukan lagi sekadar "nice to have", tapi "must have".
Ketika Komunikasi Kehilangan Sentuhan Manusianya
Sekarang pertanyaannya: apa yang sebenarnya berubah dari cara kita berkomunikasi di ruang belajar?
Yang paling kentara adalah hilangnya dimensi interpersonal. Dulu, kalau guru jelasin sesuatu, kita bisa lihat mata beliau yang berbinar-binar ketika membahas topik favoritnya. Kita bisa menangkap nada sarkasme ketika beliau lagi kesal karena banyak yang nggak ngerjain PR. Kita bisa merasakan kehangatan senyum yang bikin kita semangat belajar meski lagi capek.
Pembelajaran online yang dilakukan melalui layar komputer seringkali mengurangi dimensi interpersonal yang penting, seperti komunikasi tatap muka, empati, dan kerja tim. Komunikasi jadi lebih transaksional. Guru kirim materi, siswa baca, kerjakan tugas, kirim balik. Beres. Efisien? Iya. Tapi ada yang hilang di situ, yaitu koneksi emosional yang sebenarnya jadi inti dari proses belajar-mengajar.
Bayangkan kamu lagi bingung banget sama suatu konsep matematika. Di kelas fisik, kamu bisa langsung bilang "Pak, saya nggak ngerti" sambil nunjuk ke bagian yang bikin pusing. Guru bisa langsung lihat ekspresi bingung kamu, terus jelasin ulang dengan cara yang berbeda. Tapi di ruang digital? Kamu harus ngetik pertanyaan, nunggu dibales (kalau sempet), terus mungkin dapet penjelasan dalam bentuk teks atau video rekaman yang belum tentu menjawab kebingungan spesifik kamu.
Mohon tunggu...
Lihat Sociocultural Selengkapnya




