Tiga Wartawan Berbagi Pengalaman Meliput Terorisme dan Pentingnya Etika dalam Jurnalisme
Tiga wartawan berbagi pengalaman dan pandangan mereka mengenai tantangan dalam meliput isu terorisme serta pentingnya etika dalam jurnalisme. Dalam sebuah diskusi, mereka menekankan perlunya pendekatan yang lebih sensitif dan bertanggung jawab dalam penyampaian berita yang berkaitan dengan tindakan teror.
Pengalaman Meliput Terorisme
Muhammad Irham, wartawan BBC News Indonesia, menceritakan pengalamannya ketika mendapat perintah untuk meliput ledakan bom di Gereja Katedral Makassar. Setelah sebelumnya meliput di Maros, ia segera menuju lokasi kejadian dan terpapar pada pemandangan mengerikan pasca ledakan. Menurutnya, pengalaman meliput terorisme telah memberinya banyak pelajaran. Ia kini berfokus pada pesan anti-kekerasan dan mengedepankan konteks yang lebih mendalam dalam setiap laporan.
Irham menyoroti pentingnya menyajikan berita dengan mempertimbangkan dampak psikologis terhadap korban dan saksi mata. Ia menekankan bahwa wartawan harus peka terhadap kondisi narasumber, terutama jika mereka masih trauma akibat peristiwa yang baru saja terjadi.
Pentingnya Sensitivitas dalam Wawancara
Sementara itu, Mawa Kresna, seorang wartawan Haluan, juga mengungkapkan pendekatannya saat meliput terorisme. Ia lebih memilih untuk mendengarkan narasumber ketimbang langsung mengajukan banyak pertanyaan, agar dapat memahami kondisi psikologi mereka. Kresna mengingat pengalamannya berbincang dengan seorang pendeta yang menjadi korban bom, di mana ia memilih untuk mendengarkan cerita korban daripada memaksakan pertanyaan yang mungkin menyakitkan.
Menjaga Mutu Liputan
Keduanya sepakat bahwa menjaga mutu liputan terorisme sangat penting. Irham menekankan bahwa wartawan harus memberikan konteks pada setiap peristiwa teror dengan mengedepankan etika, akurasi, dan kredibilitas. Dia memperingatkan agar wartawan tidak terjebak dalam sensationalisme yang dapat memperkeruh suasana, serta pentingnya verifikasi informasi untuk menghindari penyebaran hoaks.
Aqwam Fiazmi Hanifan, jurnalis Narasi, juga menyoroti pentingnya skeptisisme terhadap informasi yang diberikan oleh sumber resmi, termasuk kepolisian. Ia berpendapat bahwa wartawan harus melakukan pengecekan fakta secara mendalam dan tidak menerima informasi begitu saja.
Pedoman Peliputan Terorisme
Dewan Pers di Indonesia telah menyusun pedoman peliputan terorisme yang mencakup berbagai aspek penting, seperti menjaga keselamatan wartawan, tidak mengeksploitasi identitas pelaku, dan disiplin dalam melakukan verifikasi. Di tempat kerja Irham, BBC News Indonesia, juga memiliki pedoman serupa yang harus dipatuhi oleh semua wartawan untuk menjaga integritas dan etika dalam peliputan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, tiga wartawan ini menekankan bahwa jurnalisme yang bertanggung jawab dalam meliput terorisme tidak hanya berfokus pada kecepatan dan sensationalisme, tetapi juga pada bagaimana berita tersebut dapat memperngaruhi masyarakat dan memberi pemahaman yang lebih baik tentang isu yang kompleks ini.




