Tiongkok Tanggapi Ramalan Keruntuhan oleh The Economist
Sumber Foto: PinterPolitik.com
Konteks Liputan

Tiongkok Tanggapi Ramalan Keruntuhan oleh The Economist

Latar Media - Selama dua dekade, majalah The Economist secara konsisten meramalkan keruntuhan ekonomi Tiongkok, namun negara tersebut justru menunjukkan kemajuan signifikan. Pertanyaan muncul mengenai keuntungan dari narasi ini.

Awal Kejadian

Mahasiswa hubungan internasional bernama Cupin dari Bandung memiliki kebiasaan mengecek arsip The Economist setiap Agustus untuk menemukan ramalan keruntuhan Tiongkok. Kebiasaan ini dimulai setelah ia melihat unggahan viral dari Arnaud Bertrand di platform X pada Agustus 2023. Bertrand mengunggah kolase sampul majalah tersebut yang mencerminkan ramalan pesimistis terhadap masa depan Tiongkok, seperti “Xi’s Failing Model” dan “The Great Fall of China.”

Perkembangan

Data menunjukkan bahwa antara 2001 dan 2022, pendapatan riil per kapita Tiongkok meningkat empat kali lipat, sementara pertumbuhan pendapatan di Amerika Serikat dan Inggris jauh lebih rendah. Startup kecerdasan buatan asal Tiongkok, DeepSeek, juga berhasil mengembangkan model yang setara dengan ChatGPT dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan di Silicon Valley. Cupin mempertanyakan kredibilitas The Economist yang terus meramalkan keruntuhan Tiongkok tanpa mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut.

Kondisi Terakhir

Pemilik utama The Economist adalah Exor NV, perusahaan holding keluarga Agnelli dari Italia, yang memiliki kepentingan bisnis di pasar-pasar berkembang, termasuk Asia Tenggara. Struktur kepemilikan ini menimbulkan pertanyaan tentang konflik kepentingan dalam narasi yang disampaikan. Belakangan ini, The Economist juga menyoroti kebijakan pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dengan nada skeptis, mencerminkan kecenderungan media Barat dalam membingkai negara-negara berkembang. Hal ini mengajak pembaca untuk mempertanyakan sejauh mana liputan tersebut adalah produk dari asumsi yang sudah ada sebelumnya.