Rafah: Kota Bersejarah yang Menjadi Tempat Pengungsian Warga Palestina di Tengah Ancaman Serangan Israel
Sumber Foto: BBC
Konteks Liputan

Rafah: Kota Bersejarah yang Menjadi Tempat Pengungsian Warga Palestina di Tengah Ancaman Serangan Israel

Rafah, sebuah kota di bagian selatan Jalur Gaza, berada di ambang malapetaka akibat ancaman serangan militer Israel yang berpotensi besar. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan peringatan mengenai situasi kritis yang dihadapi oleh kota ini, di mana lebih dari setengah populasi Gaza kini mengungsi.

Letak dan Populasi Rafah

Rafah terletak di perbatasan antara Gaza dan Mesir, dan merupakan kota paling selatan di Jalur Gaza. Saat ini, populasi Rafah diperkirakan mencapai 1,5 juta orang, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik yang melanda. Luas wilayah Rafah sekitar 60 kilometer persegi, setara dengan ukuran Manhattan di New York atau Banda Aceh di Indonesia.

Peran Rafah dalam Bantuan Kemanusiaan

Kota ini dikenal sebagai jalur utama untuk penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza. Sebelum konflik yang intensif, ratusan truk setiap harinya melintasi Rafah untuk memasok kebutuhan dasar bagi warga Gaza. Namun, dengan semakin ketatnya blokade yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir, banyak terowongan penyelundupan yang dahulu ada kini telah dihancurkan, mengurangi akses barang ke wilayah tersebut.

Sejarah Rafah

Rafah memiliki sejarah panjang yang melibatkan berbagai kekuatan, dari Firaun hingga kekuasaan Romawi. Dari tahun 1917 hingga 1948, kota ini berada di bawah administrasi Inggris. Setelah pembentukan negara Israel, Rafah dan Jalur Gaza jatuh ke dalam kendali Mesir hingga perang tahun 1967, saat Israel menduduki wilayah tersebut. Perjanjian damai antara Mesir dan Israel pada tahun 1979 memisahkan Rafah menjadi dua bagian: satu di Mesir dan satu di Gaza yang tetap di bawah pendudukan Israel.

Kondisi Terkini di Rafah

Saat ini, PBB menyatakan bahwa kondisi kehidupan di Rafah sangat memprihatinkan. Martin Griffiths, koordinator bantuan PBB, menggambarkan situasi di Rafah sebagai "mengkhawatirkan", di mana warga kekurangan kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup dan terancam oleh kelaparan dan penyakit. Banyak pengungsi yang terpaksa tinggal di jalanan, sekolah, dan tenda-tenda yang didirikan di berbagai lokasi.

Warga seperti Abu Rushdi Abu Daqin menceritakan perjalanan sulit mereka melarikan diri dari pertempuran di bagian utara Gaza menuju Rafah. Mereka kini hidup dalam ketidakpastian dan khawatir akan kemungkinan serangan darat yang dijanjikan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Rumah Sakit dan Keterbatasan Layanan Kesehatan

Di tengah situasi yang semakin sulit, hanya beberapa rumah sakit yang masih beroperasi, termasuk Rumah Sakit Sentral Rafah dan Rumah Sakit Spesialis Kuwait. Namun, rumah sakit-rumah sakit ini menghadapi kekurangan alat kesehatan dan kesulitan dalam menyediakan layanan akibat pemadaman listrik yang berkepanjangan.

Banyak warga di Rafah kini bertanya-tanya tentang masa depan mereka, dengan satu pertanyaan yang sama: "Ke mana lagi kami harus pergi?" dengan kondisi yang semakin sulit dan ancaman serangan yang terus menghantui.