Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila: Membedah Perbedaannya dengan Penataran P4
Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) mulai diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia sebagai metode baru untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada pelajar. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menjelaskan bahwa P5 berbeda dari pendekatan pendidikan Pancasila sebelumnya, terutama penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang dikenal di era Orde Baru, dengan melibatkan kegiatan penunjang berbasis proyek.
Namun, penerapan program yang menjadi bagian dari Kurikulum Merdeka ini belum sepenuhnya optimal di semua sekolah. Banyak pengamat pendidikan mencatat bahwa pelatihan yang kurang memadai bagi guru menjadi salah satu kendala dalam mencapai tujuan P5.
Apa itu Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila?
P5 bertujuan untuk mengajak siswa terlibat aktif dalam proyek ko-kurikuler yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti isu perubahan iklim, kesehatan mental, dan teknologi. Kepala Pusat Penguatan Karakter di Kemendikbudristek, Rusprita Putri Utami, menjelaskan bahwa setiap sekolah memiliki fleksibilitas untuk menentukan tema, alokasi waktu, dan kegiatan yang sesuai dengan konteks mereka.
Dalam buku panduan P5, diharapkan pelajar memiliki kompetensi yang relevan dengan tantangan di abad ke-21 dan berpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan. Kompetensi ini dibagi menjadi enam dimensi, yaitu: beriman dan bertakwa, berkebhinekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Variasi Penerapan P5 di Sekolah
Penerapan P5 bervariasi antar sekolah. Avriela, seorang siswa kelas X di Jakarta, mengungkapkan bahwa di sekolahnya program P5 dilakukan dengan memberikan satu jam setiap minggu untuk proyek yang terkait dengan tema tertentu. Ia merasa bahwa tugas yang diberikan kurang berkorelasi dengan tujuan Pancasila dan menganggap program ini agak tidak jelas.
Sementara itu, Silvia, seorang guru di Bekasi, menjelaskan bahwa di sekolahnya P5 dilaksanakan dengan dua pertemuan setiap minggu. Proyek yang diterapkan di kelas 1 dan 4 melibatkan tema yang relevan dengan nilai-nilai Pancasila dan lingkungan sekitar. Ia menilai metode ini lebih cocok untuk anak-anak karena melibatkan banyak kegiatan praktis.
Kritik terhadap P5
Meskipun ada upaya untuk menerapkan P5, kritik muncul terkait hubungan program dengan nilai-nilai Pancasila yang fundamental. Doni Koesoema, Direktur Pendidikan Karakter Education Consulting, berpendapat bahwa dimensi kompetensi pelajar Pancasila tidak secara eksplisit menunjukkan nilai-nilai Pancasila, dan beberapa di antaranya lebih merupakan keterampilan. Dia juga mencatat bahwa pelatihan bagi guru belum memadai, yang berdampak pada efektivitas program.
Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbudristek menyatakan bahwa kementerian telah melakukan sosialisasi dan pelatihan untuk mendukung implementasi kurikulum. Meskipun ada laporan positif mengenai dampak P5, masih terdapat tantangan dalam penyesuaian program di lapangan.
Pengamat pendidikan, Dharmaningtyas, menekankan pentingnya nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam praktik nyata, termasuk dalam lingkungan sekolah sendiri, agar siswa dapat memahami dan mengimplementasikannya secara langsung.




