Pendampingan Digital Tingkatkan Adaptasi UMKM Tahu Sumedang dan Gastrodiplomasi
Sumber Foto: JurnalPost
Teknologi

Pendampingan Digital Tingkatkan Adaptasi UMKM Tahu Sumedang dan Gastrodiplomasi

Sumedang, JurnalPost.com – Upaya mendorong adaptasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terhadap ekosistem ekonomi digital terus menjadi agenda strategis dalam penguatan daya saing daerah. Menjawab tantangan tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) dari Telkom University, dengan dukungan pendanaan dari Bio Farma, melaksanakan kegiatan Pendampingan Komunikasi Digital Inovatif bagi Pengrajin Tahu Sumedang sebagai bagian dari penguatan UMKM sekaligus strategi gastrodiplomasi Kabupaten Sumedang. 15/12

Tahu Sumedang merupakan ikon kuliner daerah yang memiliki nilai historis, budaya, dan ekonomi yang kuat. Namun, di tengah perubahan perilaku konsumen dan berkembangnya platform digital, sebagian besar pelaku industri Tahu Sumedang masih mengandalkan pola pemasaran konvensional. Keterbatasan kompetensi komunikasi digital menyebabkan potensi Tahu Sumedang sebagai identitas gastronomi daerah belum sepenuhnya terartikulasikan secara optimal di ruang digital.

Melalui kegiatan ini, pengrajin didampingi secara bertahap dan partisipatif untuk meningkatkan kompetensi komunikasi digital. Pendampingan mencakup pemetaan awal kesiapan digital, peningkatan literasi gastrodiplomasi, penguatan digital storytelling berbasis nilai lokal, hingga aktivasi dan evaluasi pengelolaan media digital. Pendekatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kesadaran strategis pengrajin dalam memaknai komunikasi digital sebagai sarana pembentukan identitas, citra, dan kepercayaan publik.

Dalam kegiatan tersebut, Agus Kori Hidayat menegaskan bahwa adaptasi digital merupakan prasyarat utama agar UMKM mampu bertahan dan berkembang.

“UMKM hari ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Adaptasi digital menjadi kunci agar UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih luas, membangun kepercayaan, dan memperkuat identitas usahanya. Tanpa kemampuan berkomunikasi secara digital, UMKM akan sulit bersaing dan berisiko tertinggal,” ujar Agus Kori Hidayat.

Ia menambahkan bahwa proses adaptasi tersebut memerlukan pendekatan yang berkelanjutan.

“Yang dibutuhkan UMKM bukan sekadar pelatihan satu kali, tetapi pendampingan yang membantu mereka memahami, mencoba, dan menyesuaikan strategi digital sesuai dengan karakter usahanya,” lanjutnya.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Martah Tri Lestari menekankan bahwa adaptasi digital UMKM tidak dapat dilepaskan dari penguatan kompetensi komunikasi.

“Adaptasi digital tidak akan efektif jika UMKM hanya diperkenalkan pada teknologi. Yang jauh lebih penting adalah pendampingan serius dalam pengembangan kompetensi komunikasi, agar pelaku UMKM mampu menyampaikan cerita, nilai, dan identitas produknya secara tepat di ruang digital,” jelas Dr. Martah Tri Lestari.

Menurutnya, komunikasi digital merupakan fondasi utama agar produk lokal memiliki daya saing berkelanjutan.

Baca Juga

ITB Perkuat Daya Saing UMKM Batik Ciwaringin melalui Branding Naratif dan Integrasi Marketplace Global

Batik Ponorogo: Ketika Denyut Industri Lokal Terekam dalam Nama Jalan

“Ketika UMKM mampu berkomunikasi secara strategis dan autentik, mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun makna dan kepercayaan. Inilah yang menjadikan komunikasi digital relevan dalam konteks penguatan identitas daerah dan gastrodiplomasi,” tambahnya.

Kegiatan ini turut didukung oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sumedang, yang mendorong sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pelaku UMKM. Partisipasi aktif para pengrajin Tahu Sumedang sebagai mitra utama menjadi faktor penting keberhasilan program, karena seluruh tahapan pendampingan dirancang berdasarkan kebutuhan dan kondisi riil di lapangan.

Hasil awal kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan kepercayaan diri pengrajin dalam memanfaatkan media digital. Pengrajin mulai mampu menyusun narasi produk yang menonjolkan nilai tradisi, proses produksi, dan identitas lokal Sumedang, serta memahami komunikasi digital sebagai sarana memperkenalkan budaya kuliner daerah kepada audiens yang lebih luas.

Melalui program ini, Tahu Sumedang tidak hanya diposisikan sebagai produk kuliner unggulan, tetapi juga sebagai medium gastrodiplomasi berbasis komunitas, di mana UMKM berperan sebagai agen komunikasi budaya. Ke depan, model pendampingan ini diharapkan dapat direplikasi pada komoditas gastronomi lokal lainnya untuk mendukung penguatan ekonomi kreatif, pelestarian budaya, dan citra Kabupaten Sumedang di tingkat nasional maupun global.

Tags: Berita UMKM