Pelatihan Etika Komunikasi untuk Personel Keamanan KAI Services
KAI Services melatih 54 personel keamanan untuk memahami etika komunikasi digital dan cara berinteraksi dengan pelanggan.
JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID - Reputasi organisasi tidak hanya dibangun melalui strategi kehumasan formal dari departemen khusus, tetapi juga melalui setiap interaksi karyawan dengan publik. Kesadaran akan hal itu yang kemudian mendorong KAI Services menyelenggarakan pelatihan etika komunikasi dan media sosial bagi 54 personel satuan keamanan pada Rabu (12/11/2025), di Auditorium Kantor Pusat KAI Services, Jakarta.
Disampaikan oleh Manager Corporate Communication KAI Services Nyoman Suardhita, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya strategis dalam meningkatkan profesionalisme petugas keamanan sebagai representasi perusahaan di hadapan pengguna jasa. "Pelatihan ini kami selenggarakan untuk membekali petugas satuan keamanan dengan kemampuan komunikasi baik serta mengingatkan pentingnya bijak menggunakan media sosial, terutama saat berseragam," ujarnya dikutip dari RRI.co.id, Kamis (20/11/2025).
Dalam pelatihan tersebut, para peserta memperoleh materi yang mencakup etika dunia maya, cara berinteraksi dengan pelanggan kereta, penggunaan body language, menjaga penampilan, hingga penerapan prinsip utama standar pelayanan prima. Selain materi teoretis, kegiatan juga diisi sesi simulasi dan praktik pelayanan guna memungkinkan personel keamanan berlatih menghadapi berbagai situasi nyata.
Karyawan sebagai Duta Internal
Berdasarkan employee advocacy theory, perspektif kehumasan modern menganggap setiap karyawan sebagai representasi hidup nilai organisasi. Penelitian Tejil Thomas bertajuk Employee Advocacy as a Marketing Strategy to Power Brand Promotion: an Employee Perspective (2020) mempertegas hal tersebut, dengan menjelaskan bahwa keterlibatan karyawan dalam membagikan konten merek di media sosial meningkatkan engagement hingga delapan kali lipat dibandingkan konten resmi perusahaan.
Thomas juga menyebut, ketika karyawan diberi motivasi, pengakuan, dan penghargaan secara signifikan, hal tersebut dapat membantu memperkuat citra dan reputasi organisasi di mata publik secara lebih autentik dan berdampak.




