Menjaga Kehangatan Pembelajaran Daring melalui Interaksi Manusiawi
Sumber Foto: KlikPositif.com
Teknologi

Menjaga Kehangatan Pembelajaran Daring melalui Interaksi Manusiawi

Oleh: Nurul Annisa Yumna – Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

KLIKPOSITIF — Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara kita mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia. E-learning, hybrid learning, hingga massive open online course (MOOC) kini menjadi tulang punggung pelatihan dan pendidikan—mulai dari perkuliahan, diklat pegawai, hingga Latsar CPNS. Akses menjadi lebih merata, biaya lebih hemat, dan peserta dari Sabang sampai Merauke bisa belajar tanpa harus ke ibu kota.

Namun di balik kemudahan itu, muncul satu keluhan yang makin sering terdengar:

“Belajarnya masuk, tapi kok rasanya sendirian?”

Fenomena ini bukan sekadar perasaan. Dalam kajian komunikasi, kondisi ini disebut rendahnya social presence, yaitu hilangnya rasa bahwa kita benar-benar “hadir” bersama orang lain meski berada dalam ruang digital. Kamera mati, mikrofon mute, chat monoton “hadir, Bu”, forum diskusi sepi, dan feedback yang terlambat membuat pembelajaran terasa sangat transaksional: upload tugas, dapat nilai, selesai. Padahal pengembangan SDM tidak pernah hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga membangun empati, kolaborasi, dan rasa memiliki.

Baca Juga

Kepatutan dan Ketertiban Umum: Penyeimbang di Tengah Kekakuan Hukum Tertulis

Rabu, 25 Mar 2026 | 14:31 WIB

Bagaimana Pemerintahan Jatuh ?

Kamis, 19 Mar 2026 | 06:47 WIB

Layar Memudahkan, Tapi Juga Memisahkan

Di kelas tatap muka, dosen dapat membaca bahasa tubuh mahasiswa: siapa yang bingung, siapa yang antusias, siapa yang mulai kehilangan fokus. Di kelas daring, banyak sinyal itu hilang. Interaksi menjadi kering dan hubungan pengajar–peserta melemah. Jika tidak dikelola, kelas daring perlahan berubah menjadi sekadar ruang administrasi, bukan ruang belajar.

Pengalaman yang Memberi Harapan

Saya pernah mengikuti pelatihan daring yang gagal total karena terlalu asinkron, tetapi saya juga pernah merasakan program yang sangat berhasil. Salah satu yang paling berkesan adalah Latsar CPNS berbasis MOOC yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN). Mereka tidak hanya mengandalkan video dan modul di LMS.

Setiap minggu ada sesi coaching via Zoom. Mentor membuka pertemuan dengan menyapa peserta satu per satu: “Ibu Rina dari Manokwari, bagaimana progres aktualisasinya?” Kelompok kecil dibentuk permanen selama pelatihan, ada grup WhatsApp aktif, dan tugas kolaborasi dikerjakan bersama lewat Google Docs. Hasilnya terasa nyata: forum diskusi yang awalnya sepi berubah menjadi hidup, peserta saling membantu, dan banyak yang masih berkomunikasi hingga pelatihan selesai berbulan-bulan lalu.

Hal-Hal Sederhana yang Mengubah Segalanya

Dari pengalaman sebagai peserta maupun fasilitator, beberapa strategi sederhana ternyata sangat efektif menjaga kehangatan di balik layar:

Sapa peserta dengan nama dan tanya kabar (3–5 menit sudah cukup).

Lakukan ice-breaking ringan: “Sebutkan satu hal yang membuat Anda tersenyum minggu ini.”

Gunakan breakout room untuk diskusi kelompok kecil.

Buat pertanyaan diskusi yang personal dan relevan, bukan sekadar “Bahas modul 4”.

Berikan feedback dengan nada manusiawi: “Idemu menarik, coba kembangkan di bagian ini ya…”

Kamera boleh mati, tetapi wajib gunakan foto profil dan nama lengkap agar tetap ada “wajah”.

Efeknya luar biasa: tingkat partisipasi meningkat, suasana kelas lebih hidup, dan peserta yang awalnya pasif mulai berani bersuara.

Teknologi tidak akan mundur. Pembelajaran dan pelatihan daring akan semakin mendominasi. Tetapi jangan sampai kita salah sangka: platform canggih + materi lengkap ≠ SDM unggul.

Yang membuat manusia berkembang adalah perasaan bahwa mereka dilihat, didengar, dan dihargai.

Kepada para dosen, mentor, fasilitator, dan pengambil kebijakan: mari pastikan bahwa di balik setiap sesi Zoom, forum LMS, atau tugas online, selalu ada sapaan hangat, humor kecil, dan perhatian sederhana yang membuat peserta merasa, “Saya tidak belajar sendirian.”

Pada akhirnya, pengembangan sumber daya manusia bukan soal seberapa banyak materi yang kita sampaikan, tetapi seberapa dalam kita menyentuh hati orang yang sedang belajar—entah ia berada di gedung kampus yang megah, atau duduk di teras rumah sambil menunggu sinyal naik tiga bar.

Tags: Mahasiswa Opini

Berita Lainnya

Kepatutan dan Ketertiban Umum: Penyeimbang di Tengah Kekakuan Hukum Tertulis

Rabu, 25 Mar 2026 | 14:31 WIB

Bagaimana Pemerintahan Jatuh ?

Kamis, 19 Mar 2026 | 06:47 WIB

3,37 Persen, Alarm yang Tidak Boleh Dianggap Biasa

Selasa, 17 Mar 2026 | 20:47 WIB

Penemuan Hukum Pidana Melalui Teori Hermeneutika di Era Restoratif Justice: Pergeseran Paradigma dari Retributive Justice

Senin, 9 Mar 2026 | 11:58 WIB

Tinggalkan komentar