Mengembalikan Kemanusiaan dalam Komunikasi Digital
Latar Media - SURABAYA, HUMASINDONESIA.ID – Pesatnya perkembangan teknologi digital kerap menjebak praktisi hubungan masyarakat (humas) pada orientasi teknis semata. Fenomena ini disoroti Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Wilayah Jawa Timur periode 2026-2028 Suko Widodo yang baru terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Wilayah di Surabaya, Sabtu (31/1/2026).
Pakar komunikasi Universitas Airlangga tersebut menilai, iklim komunikasi saat ini tengah mengalami disrupsi serius. Masalahnya bukan pada kecerdasan buatan (artificial intelligence /AI) atau otomasi, tetapi proses komunikasi yang terlepas dari pertimbangan empatik. Teknologi, menurut Suko, telah memunculkan persoalan ketika ia beralih fungsi dari alat bantu menjadi penentu utama keputusan komunikasi.
Dalam konteks ini Suko mengingatkan, pesan humas yang hanya berbasis efisiensi algoritm seperti kecepatan dan optimasi klik tanpa refleksi, akan berpotensi kehilangan dimensi kemanusiaan. Kondisi ini, tegasnya, mereduksi “ruh” komunikasi yang dapat memicu risiko serius seperti erosi kepercayaan publik. “Organisasi yang komunikasinya terasa mekanis dan oportunistik akan dipersepsikan tidak tulus, bahkan manipulatif. Dalam jangka panjang, publik tidak selalu merespons dengan kemarahan, tetapi dengan ketidakpedulian,” ujarnya kepada HUMAS INDONESIA, Jumat (6/2/2026).
Hilangnya keterlibatan emosional publik, lanjut Suko, merupakan bentuk kegagalan reputasi paling fatal. Oleh karena itu, ia pun mendorong penerapan humanisme digital sebagai strategi utama. Di sini Suko menampik asumsi bahwa konten etis tidak bisa viral atau mendapatkan atensi luas.
Strategi Narasi Berbasis Empati
Strategi konkret agar konten beretika tetap mampu bersaing di tengah gempuran algoritma adalah melalui pendekatan narasi yang tepat. Dalam konteks ini, terang Suko, praktisi humas dapat menggunakan teknik storytelling berbasis pengalaman manusia dan emosi autentik. Baginya, algoritma memang merespons emosi, tetapi emosi tidak harus identik dengan provokasi sensasional.
Lebih lanjut Suko menjelaskan, empati, harapan, dan kejujuran memiliki daya sebar kuat jika dikemas secara kreatif dan relevan. Oleh karenanya, praktisi humas harus berani mengambil posisi nilai yang jelas serta membangun dialog, bukan sekadar mendistribusikan pesan satu arah.
Sebagaimana disampaikan Suko dalam Communication Outlook 2026 bertema “Menjaga Arah, Menjaga Keberlanjutan”, Suko mengajak praktisi humas untuk kembali ke fungsi dasar komunikasi. “Kita semua perlu berikhtiar untuk mengembalikan fungsi komunikasi kemanusiaan. Agar teknologi komunikasi digital tidak merusak masa depan anak-anak kita,” pungkasnya. (Arfrian R.)




