Memahami Jihad dan Konsep Islam di Tengah Isu Radikalisasi
Sumber Foto: BBC
Konteks Liputan

Memahami Jihad dan Konsep Islam di Tengah Isu Radikalisasi

Dalam ceramah salat tarawih pertama di bulan suci Ramadhan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Imam Besar Nasaruddin Umar membahas makna jihad yang kerap disalahpahami dan digunakan untuk membenarkan aksi terorisme. Ia menyerukan agar umat Islam merebut kembali makna jihad yang sesungguhnya, yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Nasaruddin menjelaskan bahwa jihad bukanlah tindakan kekerasan, melainkan sebuah usaha untuk menghidupkan jiwa-jiwa yang kering, memperbaiki perekonomian umat, dan memberikan semangat hidup kepada yang membutuhkan. "Jihad itu menghidupkan rasa optimisme di masyarakat, bukan menciptakan ketakutan atau kecemasan," ujarnya.

Fenomena keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme, seperti yang terjadi di Surabaya, menunjukkan adanya perubahan dalam sudut pandang terhadap peran perempuan dalam radikalisasi. Lies Marcoes mencatat bahwa tindakan Puji Kuswanti, yang melakukan bom bunuh diri bersama anak-anaknya, merefleksikan pemahaman tertentu tentang jihad dan pengorbanan.

Di media sosial, banyak pembaca memberikan pandangan berbeda tentang makna jihad. Sebagian mengartikan jihad sebagai perjuangan untuk belajar dan melawan kebodohan, sementara yang lain melihatnya sebagai usaha untuk memperbaiki sifat-sifat buruk dalam diri.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh LSI dan Wahid Foundation, ditemukan bahwa 33% responden setuju dengan konsep jihad yang diartikan sebagai perang mengangkat senjata terhadap orang kafir. Namun, survei pada tahun 2017 menunjukkan bahwa hanya 13% responden yang mendukung jihad kekerasan.

Abdullah Darraz, direktur eksekutif Maarif Institute, menjelaskan bahwa jihad seharusnya dipahami dalam konteks yang lebih luas, bukan sempit dalam bentuk peperangan. Ia menekankan pentingnya pemahaman yang benar terhadap istilah-istilah dalam Islam yang sering disalahartikan, seperti khilafah dan amar maruf nahi munkar.

Darraz juga menyoroti perlunya upaya pendefinisian ulang konsep-konsep ini di institusi pendidikan, tempat di mana ideologi dapat diperdebatkan secara sehat. Menurutnya, pendidikan harus memberikan ruang bagi berbagai narasi, baik yang moderat maupun yang kritis, untuk mencegah pemahaman yang salah terhadap ajaran agama.

Dalam konteks jihad dan terorisme, Nazib Azca dari Universitas Gadjah Mada mengingatkan bahwa meskipun agama sering mengajarkan damai, terdapat dimensi yang bisa ditafsirkan secara berbeda, termasuk perintah untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang keras. Ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang mendalam dan komprehensif terhadap ajaran agama untuk mencegah radikalisasi.