KPI Minta Masyarakat Awasi Iklan Partai Perindo di Stasiun TV MNC
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengajak masyarakat untuk mengawasi tayangan iklan partai politik Perindo yang ditayangkan secara masif di empat stasiun televisi milik Hary Tanoesoedibjo. KPI menilai iklan tersebut melanggar ketentuan karena dilakukan di luar waktu dan tempat yang ditentukan untuk kampanye.
Hardly Stefano, komisioner KPI Pusat, mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, iklan Perindo telah dilaporkan secara luas dan dianggap melanggar pasal kepentingan publik. "Kami memberi sanksi terhadap empat stasiun televisi terkait iklan Perindo, karena banyaknya pengaduan dari masyarakat dan pelanggaran yang telah berlangsung cukup lama," ujarnya kepada BBC Indonesia.
Hardly menambahkan bahwa iklan tersebut tayang setiap hari dengan durasi berkisar antara lima hingga sepuluh kali, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai tujuan dari iklan tersebut. "Tujuan iklan ini adalah untuk mempengaruhi pemirsa, dan dalam konteks itu, frekuensi tayang telah digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu," jelasnya.
MNC Group, sebagai pemilik stasiun televisi tersebut, melalui corporate secretary Ray Wijaya, menyatakan bahwa mereka sedang membahas teguran dari KPI dan belum mengambil keputusan. "Kami mempertanyakan dasar edaran ini karena kami hanya memperlakukan iklan seperti iklan umumnya yang masuk ke MNC," kata Ray.
KPI juga telah mengeluarkan edaran kepada semua lembaga penyiaran untuk tidak menayangkan iklan politik dalam berbagai bentuk. Sejak 2016, KPI mencatat 260 pengaduan dari masyarakat terkait iklan Perindo dan meminta publik untuk terus mengawasi tayangan iklan tersebut.
Hary Tanoe, yang mendirikan Partai Persatuan Indonesia (Perindo) pada Februari 2015, sebelumnya pernah bergabung dengan partai Nasdem dan Hanura. Perindo merupakan salah satu partai dalam koalisi yang mendukung pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pada Pilkada DKI Jakarta yang lalu.
Sejumlah pengguna media sosial turut menyoroti frekuensi tayang iklan Perindo. Beberapa di antaranya mengungkapkan kekhawatiran bahwa iklan tersebut lebih sering ditayangkan dibandingkan lagu kebangsaan. Salah satu pengguna Facebook, Yuke Gunawan, menulis, "Anak-anak kecil yang sering menghadap di depan TV, saya jamin lebih hafal lagu mars Perindo daripada lagu kebangsaan nasional." Pengguna lain, Wahyudi Ch, menambahkan bahwa tayangan mars Perindo lebih sering dibandingkan lagu Indonesia Raya.
Hary Tanoe, ketika ditanya tentang ambisi politiknya, pernah mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menyatakan ingin menjadi calon presiden. Ia menyatakan, "Saya hanya ingin membangun sebuah partai politik yang dapat membantu Indonesia menjadi negara maju. Saya membangun partai saya dengan uang saya sendiri dan tidak pernah meminta donasi."




