Kesehatan Mental Anak: Masalah Serius yang Perlu Diperhatikan
Sumber Foto: BBC
Konteks Liputan

Kesehatan Mental Anak: Masalah Serius yang Perlu Diperhatikan

Satu dari tiga anak berusia 10 hingga 17 tahun di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, menurut data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022. Peningkatan kunjungan anak dan remaja ke layanan psikologis yang mencapai 20-30 persen memberikan sinyal bahwa kondisi kesehatan mental anak di Indonesia memerlukan perhatian serius.

Meski kesadaran orang tua dan masyarakat terhadap kesehatan mental semakin meningkat, gejala awal yang muncul pada anak sering kali disalahartikan sebagai perilaku nakal, malas, atau manja. Psikolog dan pendidik, Najelaa Shihab, menegaskan perlunya kolaborasi antara orang tua dan sekolah dalam menjaga kesehatan mental anak, mengingat masalah di satu konteks dapat berdampak pada konteks lain jika tidak ditangani bersama.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga tampak di negara-negara lain seperti Korea Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh anak berusia 10-19 tahun secara global mengalami gangguan kesehatan mental.

Pengalaman Nyata dari Anak dan Keluarga

Sejumlah orang tua dan anak berbagi pengalaman mereka dalam menghadapi masalah kesehatan mental. Satu contoh adalah Ade, seorang anak berusia 13 tahun, yang mengalami perundungan di sekolah dan stigma sebagai pembuat onar. Ibu Ade, Nurlinda Lamadi, menjelaskan bagaimana ketidakstabilan emosi anaknya sering kali disalahartikan dan menyebabkan ia semakin terasing.

Setelah lulus dari SD, Ade didiagnosis dengan ADHD dan bipolar, serta mengalami disabilitas mental ringan. Nurlinda mengungkapkan rasa syukurnya setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, yang memungkinkan mereka untuk merencanakan penanganan yang lebih baik.

Di sisi lain, Mima, seorang mahasiswi berusia 22 tahun, mengisahkan gejala kesehatan mental yang muncul sejak usia dini, termasuk serangan panik dan gejala fisik lainnya. Mima menceritakan bagaimana bullying di sekolah memicu masalah kecemasan yang terus berlanjut hingga remaja, termasuk percobaan bunuh diri. Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, Mima merasa lebih tenang dan dapat menjalani terapi yang sesuai.

Deteksi Dini dan Penyebab Masalah

Pemilik Rumah Pengembangan Diri dan Stimulasi Anak, Anggiastri Utami, menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental berproses dan gejala awal dapat terdeteksi pada anak-anak antara usia 7 hingga 10 tahun. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan termasuk perubahan perilaku, kecenderungan menarik diri, dan kesulitan belajar.

Penyebab gangguan kesehatan mental pada anak dapat bervariasi, termasuk pengalaman buruk di sekolah, pola asuh di rumah, trauma, dan penggunaan gawai. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) mencatat bahwa 33,64% anak mengalami kekerasan dalam bentuk fisik, emosional, atau seksual.

Langkah Solutif dari Keluarga dan Sekolah

Psikolog Dian Sudiono Putri menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung kesehatan mental anak. Keluarga harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berbagi perasaan dan pengalaman. Keterlibatan aktif orang tua dalam mendengarkan cerita anak dan membangun komunikasi yang baik sangat diperlukan.

Di sekolah, pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat anak serta komunikasi dua arah antara guru dan siswa juga penting untuk mendukung kesehatan mental. Menurut Najelaa Shihab, lingkungan sekolah yang positif dapat membantu anak untuk merasa lebih nyaman dan termotivasi.

Peran Pemerintah dalam Menangani Masalah Kesehatan Mental Anak

Kementerian Kesehatan Indonesia telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk menangani masalah kesehatan mental anak, termasuk pelatihan pengasuhan positif dan skrining kesehatan jiwa di puskesmas. Meskipun demikian, masih ada tantangan dalam meningkatkan akses bantuan profesional bagi anak-anak yang membutuhkan.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, diharapkan langkah-langkah kolaboratif dari keluarga, sekolah, dan pemerintah dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak-anak di Indonesia.