Exocloud Indonesia Tingkatkan Brand Awareness Melalui Strategi Komunikasi Digital
Saat ini hampir semua orang bersaing menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian di media sosial, NGO (Non-Governmental Organization) atau lebih dikenal dengan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang menghadapi tantangan yaitu bagaimana membuat Masyarakat sadar bahwa mereka ada, bekerja, dan berdampak. "Komunikasi digital bagi LSM menuntut strategi autentik untuk membuat publik sadar akan keberadaan dan kontribusi mereka, karena persaingan perhatian dengan influencer memaksa organisasi non-profit beradaptasi cepat atau hilang relevansi." (Azzahra, dkk, 2025).
Begitu juga dengan Exocloud Indonesia, sebuah lembaga NGO yang bergerak dalam pemberdayaan anak-anak muda di bidang pendidikan dan kesejahteraan sosial. Exocloud Indonesia aktif mengadakan berbagai kegiatan seperti program beasiswa, pelatihan keterampilan, roadshow Pendidikan, hingga volunteer yang berpeluang ke luar negeri. Tantangan mereka di era serba digital yaitu menumbuhkan Brand Awareness di Tengah berkembangnya konten media sosial. Menurut Sweeney & Soutar dalam penelitian Nabila dan Mahfud (2024) menyatakan bahwa kesadaran merek, sangat penting bagi LSM untuk bersaing di era digital yang dipenuhi dengan konten media sosial karena mencerminkan kemampuan konsumen untuk mengaitkan suatu merek dengan kategori produk tertentu.
Di era digital, strategi komunikasi memainkan peran krusial dalam menghadapi persaingan konten. Dalam komunikasi kontemporer, Brand Awareness tidak hanya mencakup nama atau logo saja, melainkan juga bagaimana brand tersebut dilihat, diingat, dan dipercaya oleh publik. Menurut Rifaldi, dkk. (2025), Brand Awareness di kalangan konsumen online sangat dipengaruhi oleh penggunaan media sosial, upaya pemasaran digital, dan optimasi mesin pencari (SEO). Ramadian dkk. (2024) mendukung pandangan ini dengan menyoroti bahwa, di era digital, Brand Awareness bergantung pada indikator seperti keterlibatan dan penyesuaian konten daripada sekadar paparan massal, sehingga bisnis harus menerapkan strategi yang autentik untuk membangun ingatan dan kepercayaan publik.
Artikel ini menjelaskan bagaimana Exocloud Indonesia mengembangkan kesadaran merek melalui strategi komunikasi yang humanis, fleksibel, dan relevan dengan generasi muda, melalui tinjauan literatur dan wawancara mendalam dengan perwakilan perusahaan, termasuk General Manager, Urusan Luar Negeri, Relawan, dan Mitra.
KOMUNIKASI HUMANIS DAN RUANG DIGITAL
Puteri Rahmawati, B.Sc., General Manager Exocloud Indonesia, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa Exocloud memfasilitasi komunikasi melalui dua saluran: komunikasi digital (media sosial, publikasi program, dan konten video storytelling) dan komunikasi tatap muka (kunjungan sekolah, sosialisasi program, dan pelatihan relawan). Penggabungan kedua saluran ini berfungsi sebagai "jembatan" antara tujuan sosial dan kebutuhan publik akan kredibilitas dan keterbukaan. Menurut Kussanti dkk. (2021), di era media sosial, komunikasi langsung dan tidak langsung harus bekerja secara bersamaan untuk memastikan bahwa publik memandang pesan organisasi sebagai transparan dan dapat dipercaya.
Berbicara soal Brand Awareness, konsistensi identitas suatu brand adalah poin penting yang harus diterapkan dalam sebuah organisasi. Itulah yang ditekankan oleh E. Anindya, Foreign Affairs Exocloud Indonesia. Menurutnya, tantangan komunikasi digital bukan hanya soal membuat konten, tetapi juga dengan menjaga tone, visual, dan narasi agar tetap sesuai ciri khas Lembaga. Selain itu, "Tantangan utama komunikasi digital meliputi keamanan informasi, penyebaran hoaks, dan hilangnya kontrol atas narasi karena kecepatan penyebaran konten di media sosial." (Asari, 2023).
Salah satu kreator konten sukarelawan, Mariana Adinata, mengklaim bahwa pendekatan visual yang ramah remaja dari Exocloud yang mencakup penggunaan warna eye catching, pesan singkat yang menarik, dan story telling yang emosional adalah beberapa hal yang membuat materi mereka begitu kuat. Bandang Nakula, Sukarelawan Public Relation (PR), menekankan pentingnya memantau tren digital, berbeda dengan tim pembuat konten. "Penonton kini lebih menyukai konten singkat berdurasi 30-45 detik yang langsung 'menyentuh' dalam tiga detik pertama," katanya. Hal ini sejalan dengan studi oleh Herlinah, dkk. (2025), yang menyatakan bahwa karena rentang perhatian pengguna rata-rata hanya 8 detik, informasi singkat berdurasi 15 hingga 60 detik kini menjadi standar di era digital. Menjaga keterlibatan sambil menyampaikan nilai-nilai dasar organisasi merupakan tantangan.




