Dinamika Hubungan AS dan China: Lebih dari Sekedar 'Perang Dingin Kedua'
Sumber Foto: BBC
Konteks Liputan

Dinamika Hubungan AS dan China: Lebih dari Sekedar 'Perang Dingin Kedua'

Pertemuan antara pejabat senior Amerika Serikat dan China baru-baru ini menandai momen penting dalam hubungan dua kekuatan global. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dan Penasihat Keamanan Nasional, Jake Sullivan, bertemu dengan diplomat senior China, Yang Jiechi, dan Menteri Luar Negeri Wang Yi, di Alaska pada 18 Maret 2021.

Menjelang pertemuan, Blinken menjelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak dimaksudkan sebagai dialog strategis, dan AS tidak berniat untuk melanjutkan hubungan lebih lanjut dengan China. "Hubungan ini," katanya, "jika China ingin menjalin hubungan, harus didasarkan pada kemajuan dan hasil nyata terkait masalah yang menjadi perhatian kami terhadap China."

Saat ini, hubungan antara AS dan China berada pada titik terburuk, dan situasi ini tampaknya belum akan berubah. Sebelum menjabat, Sullivan menekankan dalam sebuah artikel bahwa era hubungan yang lebih baik dengan China sudah berakhir. Kini, banyak yang menggambarkan hubungan AS dan China sebagai 'Perang Dingin' baru, mengacu pada persaingan antara AS dan Uni Soviet selama paruh kedua abad ke-20.

Persepsi ini penting karena dapat memengaruhi pertanyaan dan jawaban yang diajukan terkait hubungan kedua negara. Pendekatan yang diambil juga menetapkan batasan kebijakan, membatasi beberapa pilihan dan membuka yang lainnya. Meskipun penggunaan analogi sejarah dapat membantu menjelaskan konteks, beberapa pihak berpendapat bahwa pendekatan tersebut dapat berujung kontraproduktif.

Jika 'Perang Dingin' diartikan sebagai persaingan antara dua sistem politik yang berlawanan, maka persaingan AS-China memang memunculkan kembali konfrontasi antara kedua negara tersebut. Strategi kebijakan luar negeri pemerintahan Biden mengidentifikasi China sebagai pesaing utama yang memiliki kemampuan untuk menggabungkan kekuatan di berbagai bidang, termasuk ekonomi, diplomasi, militer, dan teknologi.

China pun menunjukkan sikap serupa, berusaha untuk membangun hubungan konstruktif sambil memperkuat kepentingan nasionalnya. Namun, tindakan China di Hong Kong dan perlakuan terhadap minoritas Muslim Uighur menjadi sorotan internasional, dengan AS menuduh tindakan tersebut sebagai genosida.

China sering memanfaatkan momen untuk menunjukkan kelemahan sistem yang diterapkan AS. Mereka mengklaim bahwa penanganan pandemi Covid-19 oleh pemerintahan Trump dan insiden di Gedung Capitol menunjukkan bahwa model sosial-ekonomi China lebih unggul.

Meskipun istilah 'Perang Dingin' tampak relevan, perbandingan tersebut mungkin tidak sepenuhnya akurat. Selama Perang Dingin yang asli, Uni Soviet terisolasi dari ekonomi dunia, sementara China saat ini merupakan bagian integral dari ekonomi global. Selain itu, persaingan AS-China melibatkan teknologi yang sangat penting bagi masa depan, seperti kecerdasan buatan dan 5G.

Konteks global saat ini juga berbeda, dengan dunia yang lebih multi-kutub. Dalam Perang Dingin, dunia terpecah menjadi dua kubu yang kaku, sedangkan saat ini terdapat lebih banyak aktor dan aliansi yang dinamis.

Model 'Perang Dingin' memiliki risiko yang signifikan. Persaingan ini dapat menyebabkan salah perhitungan yang berbahaya di kedua belah pihak. Menggambarkan persaingan ini dalam kerangka ideologis dapat mendorong China untuk mengambil tindakan yang berpotensi berbahaya. China bukanlah Uni Soviet; saat ini, ia adalah pesaing yang lebih tangguh dan kuat.

Di sisi lain, hubungan antara AS dan China perlu dikelola dengan hati-hati. Tantangan yang dihadapi oleh Biden dalam kebijakan luar negerinya sangat rumit, terutama dalam menyeimbangkan tekanan terhadap China dengan harapan untuk bekerja sama dalam isu-isu global seperti perubahan iklim.

Persaingan ini penting untuk masa depan, tetapi harus dihadapi dengan pemahaman yang tepat. Klise tentang kebangkitan China dan penurunan AS mungkin mengandung kebenaran, namun tidak menceritakan keseluruhan cerita. Kekuatan dan kerentanan masing-masing negara perlu dipahami untuk mengelola hubungan ini dengan lebih baik.

Secara keseluruhan, hubungan antara AS dan China bukanlah sekadar 'tanda-tanda Perang Dingin kedua', melainkan sebuah kompleksitas yang harus ditangani dengan kebijakan yang bijak dan berwawasan ke depan.