Dampak Lingkungan dari Hewan Peliharaan: Anjing dan Kucing dalam Sorotan
Sumber Foto: BBC
Konteks Liputan

Dampak Lingkungan dari Hewan Peliharaan: Anjing dan Kucing dalam Sorotan

Pemeliharaan hewan peliharaan, khususnya anjing dan kucing, telah menjadi topik penting dalam diskusi mengenai dampak ekologis. Sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa hewan peliharaan dapat memberikan jejak kaki ekologis yang signifikan, berkontribusi pada penurunan kualitas lingkungan.

Menurut kajian yang dilakukan oleh Robert dan Brenda Vale, peneliti dari Universitas Victoria, Selandia Baru, seekor anjing dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca yang setara dengan mobil SUV. Mereka mencatat bahwa anjing berukuran sedang dapat menghasilkan emisi karbon dioksida sekitar 4.233 kilogram per tahun, yang lebih tinggi dibandingkan emisi gabungan dari mobil seperti Toyota Land Cruiser tahun 2019.

Pola Makan dan Emisi Gas Rumah Kaca

Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa pola makan hewan peliharaan, khususnya konsumsi daging, berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca. Gregory Okin, seorang guru besar geografi di Universitas California, mencatat bahwa di Amerika Serikat terdapat sekitar 163 juta anjing dan kucing. Makanan yang diberikan kepada hewan-hewan ini menyumbang sekitar 64 juta ton gas rumah kaca ke atmosfer setiap tahun, yang setara dengan emisi dari 13 juta mobil.

Okin menegaskan bahwa daging menjadi faktor utama dalam fenomena ini. Sektor peternakan secara global menyumbang sekitar 15% dari total emisi gas rumah kaca, dan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing mengkonsumsi sekitar 25% daging yang diproduksi di AS.

Pertimbangan untuk Pemilik Hewan Peliharaan

Meskipun Okin mencintai hewan peliharaannya, ia mengingatkan pentingnya mempertimbangkan dampak lingkungan dari pemeliharaan hewan. Ia menekankan bahwa meskipun hewan peliharaan memberikan banyak manfaat, mereka juga memiliki efek besar terhadap lingkungan.

Beberapa ilmuwan lainnya, seperti Seth Wynes dari Universitas Lund dan Kimberley Nicholas dari Universitas British Columbia, menyatakan bahwa meskipun memelihara anjing tidak memiliki dampak besar terhadap perubahan iklim jika dibandingkan dengan perilaku manusia lainnya, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami jejak karbon spesifik berdasarkan ukuran anjing.

Alternatif dan Rekomendasi

Robert dan Brenda Vale merekomendasikan agar pemilik hewan peliharaan mempertimbangkan untuk memilih hewan yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, seperti ayam atau kelinci. Mereka menilai jejak ekologis kucing sebesar 0,15 hektare, sedangkan hamster sebesar 0,014 hektare. Sebagai perbandingan, anjing memiliki jejak ekologis sebesar 0,84 hektare.

Greg Okin juga memperingatkan tentang tren meningkatnya kepemilikan hewan peliharaan, terutama di negara berkembang seperti China, di mana populasi hewan peliharaan meningkat pesat. Hal ini berpotensi meningkatkan permintaan daging dan berkontribusi pada emisi yang lebih tinggi.

Industri makanan hewan peliharaan, yang bernilai miliaran dolar, berperan penting dalam perdebatan ini. Michael Bellingham, pimpinan Asosiasi Produsen Makanan Hewan, menekankan bahwa industri menggunakan produk sampingan yang seharusnya tidak terbuang dan mencari solusi alternatif seperti penggunaan protein dari serangga.

Robert Vale menyarankan bahwa dalam konteks keberlanjutan, memilih hewan peliharaan dengan pola makan vegetarian dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan hewan karnivora.