Beragam Gaya Komunikasi Digital: Antara Basa-basi dan To the Point
Sumber Foto: RRI.co.id
Teknologi

Beragam Gaya Komunikasi Digital: Antara Basa-basi dan To the Point

RRI.CO.ID, Jakarta - Etika berkomunikasi di era digital kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Lewat chat maupun sambungan telepon, pilihan antara basa-basi atau langsung ke inti pembicaraan kerap memengaruhi kenyamanan lawan bicara. Hal ini pun diangkat dalam segmen interaktif #KabarJakarta bersama Bang Arief dan Mpok Nova.

Melalui ajakan terbuka, pendengar diminta berbagi pandangan soal gaya komunikasi digital yang mereka terapkan sehari-hari. Respons datang dari berbagai daerah, mulai dari Bogor, Magelang, hingga Yogyakarta dan Tangerang, menunjukkan beragam sudut pandang yang menarik untuk disimak.

Pak Luthfi dari Tajur Halang, Bogor, mengaku lebih memilih gaya komunikasi to the point, terutama dalam konteks pembelajaran sekolah. Menurutnya, penyampaian yang langsung ke inti lebih efektif dan menghindari kesalahpahaman, khususnya saat menyangkut materi pendidikan.

Sementara itu, Slamet Nursani dari Magelang memiliki pendekatan yang lebih fleksibel. Ia mengatakan cenderung langsung ke poin, namun tetap memberi ruang basa-basi jika topik yang dibahas tergolong berat. Baginya, basa-basi bisa menjadi pembuka agar suasana percakapan lebih nyaman.

Pandangan serupa datang dari Richar di Yogyakarta. Ia menilai gaya komunikasi sangat bergantung pada siapa lawan bicara yang dihadapi. Menurutnya, komunikasi dengan rekan kerja tentu berbeda dengan berbincang bersama keluarga atau teman dekat.

Aan dari Bogor juga sependapat bahwa konteks dan hubungan personal menjadi faktor penentu. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan cara berbicara agar pesan tersampaikan dengan baik tanpa menyinggung perasaan lawan bicara.

Pendapat unik datang dari Iren di Tangerang. Dengan nada santai, ia mengatakan tidak menggunakan basa-basi jika berkomunikasi dengan mantan. Pernyataan ini pun mengundang tawa dan menjadi salah satu respons yang paling menarik perhatian pendengar.

Beragam tanggapan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu gaya komunikasi digital yang paling benar. Setiap orang memiliki preferensi sendiri yang dipengaruhi oleh situasi, topik, serta kedekatan hubungan.

Dalam konteks etika berkomunikasi digital, kesadaran untuk menempatkan diri menjadi kunci utama. Basa-basi bisa menjadi jembatan keakraban, sementara komunikasi to the point dapat mencerminkan efisiensi dan profesionalisme.

Melalui diskusi ringan ini, #KabarJakarta kembali mengingatkan pentingnya bijak dalam berkomunikasi di ruang digital. Apa pun pilihannya, saling menghargai dan memahami lawan bicara tetap menjadi etika utama dalam setiap percakapan.