Warta Ekonomi Apresiasi Perusahaan Berbasis Syariah dan Halal
Sumber Foto: MIX Marcomm
Ekonomi

Warta Ekonomi Apresiasi Perusahaan Berbasis Syariah dan Halal

MIX.co.id - Warta Ekonomi menyoroti kinerja ekonomi syariah nasional yang menunjukkan perkembangan pesat. Total aset keuangan syariah tercatat meningkat dari Rp6.193 triliun pada 2021 menjadi Rp10.257 triliun pada 2025. Pangsa pasar keuangan syariah juga mencapai 30,3% dari total aset keuangan nasional, naik dari 27,8% pada tahun sebelumnya.

Selain itu, pasar syariah dinilai semakin dominan dengan kontribusi 45,9% terhadap total aset dan pertumbuhan 25% secara tahunan. Sektor industri keuangan non-bank syariah memiliki pangsa pasar 10,7% dengan pertumbuhan 7,3%, sementara perbankan syariah masih berada di kisaran 7,6% meski mengalami peningkatan sekitar 2,5% dalam satu dekade.

Kontribusi ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional juga terlihat dari rasio aset keuangan syariah terhadap PDB yang mencapai 54%. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan kapitalisasi pasar keuangan syariah nasional mencapai Rp9.981,8 triliun per November 2025, tumbuh lebih dari 45% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi perdagangan, nilai ekspor produk halal Indonesia pada Januari–Oktober 2024 mencapai US$41,4 miliar dan mencatat surplus signifikan, memperkuat posisi sektor halal sebagai sumber devisa dan penopang neraca perdagangan.

Pemerintah sendiri menempatkan ekonomi halal dan keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan baru dalam RPJMN 2025–2029. Strategi ini mencakup penguatan industri halal di sektor makanan dan minuman, fesyen muslim, farmasi, kosmetik, pariwisata, hingga ekonomi kreatif, termasuk percepatan sertifikasi halal bagi UMKM serta peningkatan kerja sama internasional.

Diungkapkan CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi Group Muhamad Ihsan, kinerja keuangan perusahaan menjadi indikator penting ketahanan bisnis. Ia mengatakan, 73,1% perusahaan mengalami peningkatan aset sepanjang 2025, sementara 46 perusahaan mencatat pertumbuhan laba dan 43 perusahaan mengalami penurunan. Bahkan, sekitar 65,7% perusahaan menunjukkan visibilitas di media dengan sentimen pemberitaan didominasi netral hampir 65% dan positif 34%.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pembinaan dan Pengawasan Jaminan Produk Halal E. A Chuzaemi Abidin menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan seluruh pemangku kepentingan agar Indonesia mampu mengejar posisi negara lain, seperti Malaysia dan Arab Saudi yang saat ini berada di peringkat teratas ekonomi halal global. “Kalau kita tidak bersinergi antara pemerintah, pihak swasta dan seluruh stakeholder, saya yakin Indonesia sangat sulit mengejar tadi Malaysia yang di peringkat pertama dan Saudi Arabia yang di peringkat kedua,” yakinnya.

Chuzaemi mengatakan target menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia pada 2029 hanya dapat tercapai apabila kolaborasi lintas sektor berjalan optimal. Dia juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi, seperti keterbatasan pembiayaan syariah untuk mendukung sektor ekonomi halal serta masih banyaknya perusahaan yang belum memiliki sertifikasi halal.

Menurutnya, orkestrasi kebijakan dan kolaborasi menyeluruh menjadi kunci agar Indonesia dapat menjadi pemain utama industri halal global dalam beberapa tahun mendatang.

Untuk itu, Warta Ekonomi memberikan apresiasi kepada perusahaan yang dinilai berhasil menciptakan nilai ekonomi, memperkuat daya saing merek, serta mengimplementasikan prinsip halal dan syariah. Mengusung tema Strengthening Economic Value and Market Competitiveness to Sariah and Halal Excellence, Warta Ekonomi memberikan penghargaan kepada 29 perusahaan.