Uni Eropa Siapkan Tindakan Balasan Terhadap Ancaman Tarif AS
JAKARTA - Ketegangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa jika tidak tercapai kesepakatan yang memungkinkan AS mengakuisisi Greenland. Ancaman tersebut mencakup tarif awal 10% mulai 1 Februari yang berpotensi naik hingga 25% pada 1 Juni.
Dikutip cnbc.com, menanggapi hal itu, para diplomat Eropa menggelar pertemuan darurat di Brussels. Prancis mendorong Uni Eropa untuk mempertimbangkan penggunaan Anti-Coercion Instrument (ACI), mekanisme balasan ekonomi terkeras yang dimiliki UE.
Instrumen ini memungkinkan pembatasan akses perusahaan AS ke pasar Uni Eropa, termasuk larangan ikut tender publik dan pembatasan perdagangan serta investasi.
Baca Juga: IHSG turun 2,65% imbas perang AS dan Iran, saham energi melesat
Meski dipandang sebagai “bazooka” perdagangan, ACI belum pernah digunakan sebelumnya. Sejumlah negara anggota, termasuk Jerman, disebut masih berhati-hati dan lebih memilih jalur dialog.
Namun, Financial Times melaporkan UE juga tengah menimbang penerapan tarif balasan senilai 93 miliar euro terhadap produk AS.
Di sisi lain, Parlemen Eropa dikabarkan berpeluang menunda ratifikasi perjanjian dagang UE-AS yang disepakati Juli lalu. Pemungutan suara untuk penghapusan berbagai bea masuk atas produk AS yang semula dijadwalkan akhir Januari kemungkinan ditangguhkan.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menegaskan Uni Eropa “harus siap” menggunakan mekanisme anti-koersi tersebut. Sementara itu, analis Teneo Carsten Nickel menilai perpecahan sikap di internal UE mencerminkan perbedaan kepentingan ekonomi dan geopolitik antarnegara anggota.
“Pertanyaan kunci yang perlu dicermati adalah apakah UE akan berusaha membatasi konfrontasi ini hanya pada perang dagang yang lebih ‘klasik’, atau justru seruan untuk mengambil garis yang lebih keras akan menang,” ujar Nickel.
Para pemimpin Eropa diperkirakan akan memanfaatkan Forum Ekonomi Dunia di Davos pekan ini untuk meredakan ketegangan melalui diplomasi. Namun ekonom memperingatkan sengketa Greenland berpotensi memicu ketidakpastian berkepanjangan. “Bagi Eropa, ini berdampak negatif. Pertumbuhan akan berkurang,” kata Mohit Kumar dari Jefferies.(DH)
Baca Juga
Perdagangan asing stabil, net buy 35 juta lembar saham




