Uni Eropa Didesak Terapkan Tarif 30% untuk Hadapi Produk Murah China
Sumber Foto: SWA.co.id
Internasional

Uni Eropa Didesak Terapkan Tarif 30% untuk Hadapi Produk Murah China

Kawasan Euro kini berada di persimpangan jalan. Lembaga penasihat pemerintah Prancis, Haut-Commissariat à la Stratégie et au Plan, baru saja mengeluarkan peringatan keras: Uni Eropa (UE) butuh tindakan drastis atau berisiko menghadapi kehancuran industri akibat "banjir" produk murah dari China.

Dilansir dari Reuters, Selasa (10/2/2026), lembaga tersebut menilai instrumen perlindungan dagang yang ada saat ini—seperti investigasi anti-dumping—terlalu lambat dan tidak lagi memadai untuk membendung kecepatan ekspansi China.

Untuk memulihkan keseimbangan pasar, UE didorong untuk mempertimbangkan dua langkah yang cukup ekstrem yakni penerapan tarif menyeluruh sebesar 30% untuk produk-produk China atau melemahkan nilai tukar Euro hingga 30% terhadap Renminbi (RMB) untuk meningkatkan daya saing harga produk lokal.

Laporan tersebut menyoroti bahwa keunggulan biaya China bukan lagi sekadar soal harga murah, melainkan juga peningkatan kualitas yang signifikan. Beberapa sektor tulang punggung ekonomi Eropa yang kini berada dalam zona bahaya meliputi otomotif (terutama kendaraan listrik), mesin perkakas, industri kimia dan produksi baterai.

Meski urgensinya tinggi, namun Lembaga tersebut mengakui merealisasikan langkah ini ibarat memindahkan gunung. Melemahkan mata uang atau memaksa China memperkuat Renminbi adalah manuver moneter yang sangat rumit secara global.

Di sisi lain, penerapan tarif 30% membutuhkan dukungan mayoritas berkualifikasi dari negara-negara anggota Uni Eropa—sebuah tantangan politik besar mengingat setiap negara memiliki ketergantungan ekonomi yang berbeda-beda terhadap Negeri Tirai Bambu tersebut.