UE Investasikan €225 Juta untuk Kembangkan Vaksin Influenza Generasi Baru
Uni Eropa (UE) telah mengumumkan investasi signifikan sebesar 225 juta euro, setara dengan sekitar 264 juta dolar AS, untuk mempercepat penelitian dan pengembangan vaksin influenza generasi berikutnya. Keputusan ini, yang diresmikan dengan penandatanganan kontrak pada Februari 2026, menandai komitmen terbesar blok tersebut dalam upaya kesehatan preventif di sektor ini.
Langkah strategis ini diambil untuk memperkuat kapasitas UE dalam mencegah dan menanggapi ancaman kesehatan lintas batas, terutama mengingat mutasi virus influenza yang terus-menerus dan risiko kemunculan strain pandemi baru. Pendanaan ini akan diprioritaskan untuk teknologi vaksin yang tidak hanya mampu memberikan kekebalan luas terhadap berbagai varian influenza, tetapi juga dapat beradaptasi dengan cepat terhadap kemunculan strain virus baru.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Komisi Eropa (EC) untuk pertama kalinya dalam proyek vaksin influenza ini menerapkan model pengadaan pra-komersial (Pre-Commercial Procurement/PCP). Pendekatan inovatif ini memungkinkan UE untuk mendukung proyek vaksin mulai dari fase penelitian awal, melalui seluruh proses uji klinis Fase I, II, dan III, hingga pengembangan pra-pasar yang mengarah pada otorisasi pasar. Kontrak-kontrak yang ditandatangani akan berjalan selama 98 bulan, atau lebih dari delapan tahun, untuk memastikan pengembangan komprehensif dan persiapan regulasi yang matang.
Selain itu, program ini juga berfokus pada pengembangan metode pemberian vaksin yang lebih praktis dan ramah pasien, seperti semprotan hidung, vaksin oral, atau plester transdermal. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi penyebaran vaksinasi skala besar yang lebih cepat dan fleksibel, terutama dalam situasi darurat kesehatan masyarakat.
Hadja Lahbib, Komisioner Kesetaraan, Kesiapsiagaan, dan Manajemen Krisis UE, menegaskan pentingnya inisiatif ini. “Dengan investasi UE sebesar 225 juta euro – yang terbesar yang pernah didedikasikan untuk mempercepat akses ke tindakan penanggulangan medis inovatif – kami memajukan pengembangan vaksin flu generasi berikutnya. Inovasi adalah inti dari kesiapsiagaan,” ujar Lahbib. Ia menambahkan bahwa pendanaan ini tidak hanya membuka jalan bagi pengembangan vaksin baru, tetapi juga mendiversifikasi metode vaksinasi, memastikan opsi yang efektif dapat menjangkau populasi yang rentan.
Investasi ini didanai melalui program EU4Health dan dikelola oleh European Health and Digital Executive Agency (HaDEA) atas nama Health Emergency Preparedness and Response Authority (HERA). HERA sendiri didirikan sebagai respons langsung terhadap pelajaran yang dipetik dari penanganan awal pandemi COVID-19, dengan mandat untuk memperkuat kesiapsiagaan dan memastikan ketersediaan serta aksesibilitas tindakan penanggulangan medis.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyoroti potensi besar vaksin influenza generasi berikutnya. Menurut penilaian terbaru WHO, vaksin jenis ini dapat memberikan perlindungan yang lebih luas dan tahan lama dibandingkan vaksin musiman yang ada. Diperkirakan, penggunaan luas vaksin ini antara tahun 2025 dan 2050 berpotensi mencegah hingga 18 miliar kasus influenza dan menyelamatkan hingga 6,2 juta jiwa di seluruh dunia, terutama di kalangan kelompok berisiko tinggi. Hingga Februari 2026, tercatat ada 46 kandidat vaksin influenza generasi berikutnya yang sedang dalam tahap pengembangan klinis, menggunakan berbagai platform teknologi.




