Puisi: Fondasi Penting Pembangunan Imajinasi Kebangsaan
Pembangunan kebudayaan nasional memerlukan strategi yang melampaui pelestarian artefak dan penyelenggaraan acara seni. Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah pembangunan infrastruktur simbolik yang menopang imajinasi kebangsaan.
Oleh Ade Solihat
Pengantar redaksi: Pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, KBA News mengadakan seminar nasional untuk memperingati 1 tahun rubrik Seni & Budaya bertempat di PDS HB Jassin TIM. Seminar menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr Maman S Mahayana, Prof Dr Ricardi S Adnan, dan Dr Ade Solihat. Redaksi menurunkan makalah ketiga pembicara agar bisa dibaca oleh khalayak yang lebih luas dengan penyesuaian seperlunya.
Berita Lainnya
Dari Gerbang Chinatown hingga Hadiri Cap Go Meh, Jejak Anies Baswedan di Kawasan Pecinan Jakarta
Disambut Antusias Mahasiswa UI, Tokoh Inspirasi Anies Baswedan Videokan Audiens di Dialog Kebangsaan UI
Raih Keberkahan, Gerakan Rakyat Kota/Kabupaten Kediri Bagi-Bagi Takjil dan Bukber Ramadan
Skandal Naturalisasi Pemain Malaysia, Akhir yang Menyedihkan bagi Harimau Malaya
Anies Baswedan Angkat Suara soal Board of Peace, Akademisi UNY Nilai Indonesia Perlu Evaluasi Keanggotaan Bentukan Trump
Bahasa sebagai Infrastruktur Simbolik
Kita terbiasa memaknai pembangunan infrastruktur sebagai pembangunan jalan tol, jembatan, dan gedung pencakar langit. Jarang kita menyadari bahwa sebuah bangsa juga membutuhkan infrastruktur simbolik, yang diperankan oleh bahasa, termasuk puisi, untuk merenung, mengingat, dan merasa sebagai satu komunitas. Puisi, sebagai salah satu media yang memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur negara masih diabaikan.
Kajian kebangsaan selama ini lebih banyak menitikberatkan diskusi pada dimensi sejarah politik, hukum, dan institusional. Pendekatan tersebut kerap mengabaikan fondasi kultural yang justru mendahului lahirnya negara-bangsa. Sebelum Indonesia berdiri sebagai negara, nama “Indonesia” telah lebih dahulu hadir sebagai imajinasi kolektif yang dibangun melalui sastra, salah satunya puisi. Melalui bahasa puisi, kesadaran kebangsaan tumbuh dan diterima secara batiniah oleh masyarakat.
Menengok Kembali Sejarah Bangsa Indonesia
Sejarah sastra Indonesia awal abad ke-20 memperlihatkan bagaimana puisi menjadi medium artikulasi kebangsaan. Puisi-puisi Mohammad Yamin (1903–1962) menuangkan imajinasinya tentang Indonesia sebagai satu kesatuan emosional dan simbolik. Dalam sajak “Tanah Air” (1922) dan “Indonesia, Tumpah Darahku” (1928), nama “Indonesia” dihadirkan sebagai ruang batin yang terikat pada alam dan tanah air yang dekat dengan pengalaman si penyair di tanah kelahiran. Selanjutnya puisi ini menyebar dan tertanam dalam kesadaran bersama, yang memungkinkan masyarakat bangsa menerima dan mengafirmasi keputusan politik, seperti pada Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi Kemerdekaan (1945).
Hal yang sama tampak dalam karya Sanoesi Pane (1905–1968), yang melalui puisi-puisinya menempatkan pencarian identitas bangsa sebagai proses dialog batin antara Timur dan Barat. Dalam konteks ini, kebangsaan lahir dari rasa dan perenungan, melalui bahasa simbolik yang terekam ke dalam kesadaran kolektif, jauh sebelum menjadi kepastian hukum dan keputusan politik. Melalui puisi “Mencar’”, Sanoesi Pane, yang menyampaikan metafora pencarian diri dan dialog Timur–Barat, untuk menawarkan gagasan bahwa identitas bangsa tidak dibangun dengan meniru satu pusat peradaban, melainkan melalui perenungan kritis atas pengalaman sendiri.
Tulisan ini hanya menyebut dua penyair saja dari puluhan penyair besar Indonesia sezaman dan berikutnya, untuk memperlihatkan bahwa puisi, dalam konteks sejarah bangsa Indonesia ini, telah menjadi ruang dialog: antara individu dan bangsa, antara masa lalu dan masa depan, serta antara nilai lokal dan arus global. Dengan demikian, kebangsaan Indonesia lahir dari rasa dan kesadaran, bukan semata dari hukum dan institusi. Inilah salah satu faktor yang menguatkan keindonesiaan kita. Ketika Yugoslavia sebagai negara federasi multikultural runtuh pada dekade 1980-an dan Uni Soviet bubar pada awal 1990-an, Indonesia—yang tidak dibentuk dari atas melalui pemaksaan negara, melainkan dari kesadaran kesatuan yang tumbuh dari bawah—hingga kini tetap bertahan sebagai bangsa yang bersatu.
Namun ironis, di Indonesia, puisi justru terpinggirkan. Puisi dan sastra lebih sering hadir sebagai pentas, ajang protes, lomba, peringatan, atau tugas sekolah, bukan sebagai inti dan fondasi dalam kebiasaan hidup bersama. Persoalan Indonesia bukanlah ketiadaan penyair atau tidak adanya perhatian terhadap karya sastra. Pelajaran sastra telah masuk ke dalam kurikulum pendidikan, seminar tentang penyair besar rutin diselenggarakan, dan pemerintah telah mendirikan berbagai museum sastra. Tetapi, semua itu masih terpisah-pisah, belum terhubung sebagai ritme kebudayaan puitik nasional. Puisi masih hadir secara sporadis dan berbasis acara, bergantung pada komunitas tertentu atau peristiwa tertentu, sehingga belum menjelma sebagai praktik habitus yang berulang dan pengalaman bersama. Akibatnya, puisi hidup di ruang terbatas-terisolasi, dan belum berfungsi optimal sebagai infrastruktur simbolik bangsa yang dapat menopang kesadaran kolektif dan imajinasi kebangsaan secara berkelanjutan.
Refleksi Posisi Puisi di Turki dan Palestina
Perbandingan dengan Turki dan Palestina berikut, tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan perbedaan konteks sejarah dan politik masing-masing, melainkan untuk menyoroti cara berbeda sebuah masyarakat dan negara menempatkan puisi dalam struktur kehidupan kolektifnya. Di Turki, puisi diinstitusionalisasikan sebagai bagian dari etika publik melalui sistem pendidikan, ritual kenegaraan, dan pengelolaan warisan budaya. Namun tidak dilakukan secara terpisah-pisah. Pemerintah bersama komunitas, masyarakat luas, dan lingkungan akademik, menjadikan figur seperti Mehmet Âkif Ersoy—yang puisinya “İstiklal Marşı”, dijadikan instrumen negara sebagai lagu kebangsaan—bukan sekadar tokoh sejarah yang terpisah dari karyanya, melainkan dijadikan sebagai figur rujukan moral dan simbolik yang terus dihidupkan. Program menghidupkan tokoh ini dilakukan oleh negara, masyarakat, dan juga komunitas akademis secara terintegrasi.
Sementara itu, dalam konteks Palestina yang ditandai oleh belum diakuinya kedaulatan negara, puisi—salah satunya melalui karya Mahmoud Darwish—tidak berfungsi sebagai instrumen negara, melainkan justru sebagai pengganti fungsi simbolik negara. Pada saat bangsa ini mengalami genosida yang brutal, puisi-puisi menyimpan ingatan kolektif, menegaskan identitas, dan menjaga keberlangsungan imajinasi kebangsaan. Di Palestina, puisi telah menjadi cara bertahan hidup, menyimpan ingatan, dan menjaga identitas ketika negara dirampas.
Dalam dua konteks berbeda ini, puisi telah berfungsi sebagai infrastruktur batin bangsa. Kedua konteks ini juga memperlihatkan bahwa peran puisi tidak bersifat universal, tetapi sangat ditentukan oleh relasi antara sastra, negara, dan pengalaman historis masyarakatnya. Merefleksikan kedua pengalaman bangsa tersebut, dapat menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam mengupayakan untuk menempatkan puisi sebagai bagian dari kehidupan publik tanpa menafikan kekhasan konteksnya sendiri.
Negara, Masyarakat, Komunitas, Akademisi, dan Media yang Belum Terorkestrasi (Menuju Pentaheliks)
Di Indonesia, praktik kebudayaan puitik masih berjalan secara sektoral. Negara mengelola kurikulum pendidikan dan peringatan resmi; komunitas sastra menghidupkan puisi secara mandiri melalui acara dan jaringan lokal; sementara akademisi menempatkan puisi dalam ruang penelitian dan wacana terbatas. Media, industri kreatif, dan ruang digital—sebagai elemen penting dalam pendekatan pentaheliks—belum secara konsisten dilibatkan untuk memperluas sirkulasi puisi sebagai pengalaman publik yang berulang. Akibatnya, belum terbentuk orkestrasi kebudayaan yang menyatukan negara, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat luas (pentaheliks) dalam satu ritme kebudayaan puitik nasional.
Pembangunan kebudayaan nasional memerlukan strategi yang melampaui pelestarian artefak dan penyelenggaraan acara seni. Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah pembangunan infrastruktur simbolik yang menopang imajinasi kebangsaan. Langkah strategis dapat mencakup integrasi puisi dalam ruang publik, pendidikan lintas jenjang, program literasi kebangsaan, serta dukungan ekosistem sastra yang berkesinambungan. Dengan demikian, puisi tidak hanya dipelajari atau diperingati, tetapi dialami sebagai bagian dari kehidupan kolektif bangsa dan pembangunan imajinasi kebangsaan Indonesia.
Sudah waktunya kita memandang puisi bukan sebagai hiasan budaya, melainkan sebagai bagian penting dari pembangunan imajinasi kebangsaan. Jika jalan dan jembatan menghubungkan wilayah, maka puisi menghubungkan kesadaran. Inilah makna puisi sebagai infrastruktur simbolik. Sebagaimana pembangunan infrastruktur yang perlu perencanaan dan pendanaan yang optimal, demikian juga dengan pembangunan infrastruktur simbolik ini. Tentu tidak perlu terburu-buru, karena kita penting menikmati proses pentaheliks ini, sebagai mana kita tidak pernah terburu-buru menikmati bait-bait puisi. Dengan puisi, kita berhenti sejenak, bercermin, dan menimbang arah pembangunan.
Dr Ade Solihat, SS, MA adalah pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan pendiri Komunitas Pembaca Puisi Indonesia. Bidang penelitiannya di antaranya mencakup kajian wilayah, antropologi budaya, dan pemahaman lintas budaya. Dia dikenal sebagai ahli Turki dan menjadi kolumnis KBA News. Dr. Ade Solihat sering terlibat dalam proyek pelestarian budaya lokal, seperti penelitian motif batik dan pemberdayaan masyarakat melalui nilai-nilai budaya. Ia dikenal sebagai salah satu peneliti yang konsisten menjaga relevansi ilmu humaniora bagi masyarakat luas. Dengan keahliannya yang mendalam dalam antropologi dan kajian Timur Tengah, Dr. Ade Solihat tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga memberikan perspektif kritis dalam memahami bagaimana agama, budaya, dan identitas berinteraksi dalam dunia yang kian terhubung. (kba)
Redaksi rubrik Seni & Budaya menerima naskah puisi, cerpen, laporan pementasan, kritik sastra, pemikiran kebudayaan dalam arti luas, serta agenda acara seni dan budaya. Naskah harus dalam bentuk file Microsoft Word dan diketik dengan huruf Times New Roman berukuran 12. Pengirim naskah wajib mencantumkan nomor Whatsapp (WA) yang bisa dihubungi oleh redaksi. Silakan kirim naskah ke email: [email protected].
Tags: Puisi sebagai Infrastruktur Simbolik dalam Pembangunan Imajinasi Kebangsaan seni budaya Teras Budaya
Send Share Tweet
KBA News
Pilihan Redaksi
Dari Gerbang Chinatown hingga Hadiri Cap Go Meh, Jejak Anies Baswedan di Kawasan Pecinan Jakarta
8 Maret 2026
Pilihan Redaksi
Disambut Antusias Mahasiswa UI, Tokoh Inspirasi Anies Baswedan Videokan Audiens di Dialog Kebangsaan UI
8 Maret 2026
Geliat Jatim
Raih Keberkahan, Gerakan Rakyat Kota/Kabupaten Kediri Bagi-Bagi Takjil dan Bukber Ramadan
8 Maret 2026
Pilihan Redaksi
Skandal Naturalisasi Pemain Malaysia, Akhir yang Menyedihkan bagi Harimau Malaya
8 Maret 2026
Hot News
Anies Baswedan Angkat Suara soal Board of Peace, Akademisi UNY Nilai Indonesia Perlu Evaluasi Keanggotaan Bentukan Trump
8 Maret 2026
Hot News
Tokoh Nasional Anies Baswedan Bakal Jadi Pembicara di Bincang Plano Universitas Brawijaya Malang, Catat Tanggalnya!
8 Maret 2026




