Perjuangan Sumiran Karsodiwiryo: Membangun Imperium Rokok Reco Pentung di Tulungagung
TULUNGAGUNG - Nama besar Sejarah Rokok Reco Pentung Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari sosok tangan dingin Sumiran Karsodiwiryo. Lahir pada 9 September 1921 di sebuah desa kecil di Tulungagung, Sumiran adalah potret nyata perjuangan kelas bawah yang berhasil mengubah peta ekonomi daerahnya melalui industri hasil tembakau.
Sebagai putra sulung dari pasangan Kars Guno dan Tukinem, Sumiran tumbuh dalam keprihatinan. Ayahnya hanyalah seorang buruh kasar penggali tanah dan pemasang tiang listrik. Namun, kondisi ekonomi yang sulit justru menjadi api penyemangat bagi Sumiran untuk menekuni Sejarah Rokok Reco Pentung Tulungagung dari titik nol, membuktikan bahwa kerja keras adalah kunci utama kesuksesan.
Ketekunan Sumiran dalam membangun Sejarah Rokok Reco Pentung Tulungagung dimulai sejak ia masih anak-anak. Di usia 6 tahun, ia sudah membantu ayahnya bekerja. Mental baja ini terus terbawa hingga ia dewasa dan memutuskan untuk terjun ke dunia usaha pembuatan rokok rumahan pada Mei 1946, tepat setelah masa pendudukan Belanda berakhir.
Awal Mula Nama Reco Pentung: Simbol Perlawanan Rakyat
Produk rokok pertama yang dihasilkan Sumiran sebenarnya bernama Cap Ikan Dorang. Namun, sebuah peristiwa bersejarah di tahun 1948 mengubah segalanya. Saat itu, Belanda kembali menduduki Tulungagung dan merubuhkan patung batu "Reco Pentung" yang merupakan ikon kota di perbatasan.
Melihat ikon daerahnya dihancurkan penjajah, Sumiran justru terinspirasi. Pada awal tahun 1949, ia meluncurkan merek "Reco Pentung" sebagai simbol kebangkitan dan penghormatan terhadap identitas Tulungagung yang sempat coba dilenyapkan. Dari sinilah, pabrik rokok ini mulai dikenal luas oleh masyarakat karena cita rasa kreteknya yang kuat dan aromatik.
Produksi yang awalnya hanya dibantu oleh 5 hingga 20 pekerja meledak drastis. Ribuan warga Tulungagung akhirnya menggantungkan hidup pada kepulan asap rokok ini. Ekonomi rakyat tumbuh pesat, menjadikan perusahaan ini sebagai pilar utama kesejahteraan masyarakat lokal pada masanya.
Jatuh Bangun Menghadapi Badai Politik dan Ekonomi
Perjalanan industri rokok ini tidak selalu mulus. Pada medio 1960-an, situasi politik nasional yang memanas pasca peristiwa G30S PKI menghantam bisnis Sumiran. Produksi menurun tajam hingga ribuan pekerja terpaksa dirumahkan. Namun, Sumiran yang sudah terbiasa hidup susah tidak menyerah.
"Kalau hari ini jatuh, besok saya bangun lagi," begitulah prinsip hidupnya. Inovasi pun dilakukan dengan meluncurkan sigaret kretek putih merek "Gaya Baru". Puncaknya terjadi pada tahun 1982, ketika ia menghidupkan kembali merek Reco Pentung dengan kualitas premium. Hasilnya luar biasa; pada tahun 1991, jumlah karyawan melonjak hingga 4.500 orang, menjadikannya salah satu pabrik rokok terbesar di Jawa Timur bagian selatan.
Keberhasilan ini membawa Sumiran bersaing dengan raksasa industri seperti Gudang Garam, Jarum, hingga Sampoerna. Tak hanya di industri rokok, ia juga melebarkan sayap ke sektor pariwisata dengan mengembangkan Pantai Popoh melalui PT Sutera Bina Samudra, sebuah langkah visioner yang masih dinikmati warga hingga kini.
Di balik kesuksesannya, beredar mitos di tengah masyarakat yang mengaitkan kejayaan Reco Pentung dengan berkah gaib Nyi Roro Kidul. Hal ini dipicu oleh kedekatan Sumiran dengan kawasan Pantai Popoh yang sering dijadikan tempat semedi atau ritual budaya.
Namun, kabar miring tersebut dibantah keras oleh keluarganya, termasuk cucunya yang merupakan pesulap ternama, Deni Darko. Deni menegaskan bahwa kakeknya adalah seorang muslim yang taat dan sangat menghargai tradisi Jawa. Keberhasilannya murni berasal dari manajemen yang kuat dan kerja keras, bukan hasil pesugihan.
Akhir Sebuah Era dan Warisan Abadi
Memasuki era 1990-an, tantangan semakin berat dengan munculnya mekanisasi canggih dan modal triliunan dari perusahaan besar. Pada tahun 1995, pabrik kebanggaan warga Tulungagung ini akhirnya berhenti beroperasi karena beban pajak cukai dan kompetisi pasar yang luar biasa ketat.
Meski pabriknya kini telah sunyi, warisan Sumiran Karsodiwiryo tetap abadi. Bangunan tua di Jalan Mayor Sujadi nomor 165 mungkin sudah mulai terbengkalai, namun sejarahnya sebagai pionir ekonomi rakyat akan selalu dikenang. Ia telah membuktikan bahwa seorang anak buruh mampu membangun imperium yang memberi makan ribuan kepala keluarga.




