Pemain Tenis Elite Tertahan di Dubai, Indian Wells 2026 Terancam
Latar Media - Ringkasan Berita:
Ketegangan militer antara Amerika Serikat–Israel dan Iran membuat lebih dari 40 pemain ATP, termasuk Daniil Medvedev, Andrey Rublev, dan Karen Khachanov, tertahan di Dubai.
ATP sempat menawarkan jalur perjalanan darat menuju Oman atau Arab Saudi, namun opsi tersebut ditolak pemain karena dinilai berisiko di tengah situasi keamanan yang belum stabil.
Kondisi ini mengancam partisipasi sejumlah unggulan di Indian Wells 2026 dan berpotensi mengubah komposisi unggulan turnamen Masters 1000 tersebut.
TRIBUNNEWS.COM - Turnamen Tenis Indian Wells 2026 terancam kehilangan sejumlah bintang setelah puluhan pemain ATP dilaporkan masih tertahan di Dubai, Uni Emirates Arab.
Indian Wells yang kerap dijuluki Tennis Paradise merupakan salah satu turnamen Masters 1000 paling prestisius di kalender ATP.
Namun edisi 2026 kali ini dibayangi ketidakpastian geopolitik yang berada di luar kendali dunia olahraga akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran.
Situasi keamanan yang memanas membuat ruang udara di sejumlah negara Teluk ditutup, sehingga perjalanan menuju Amerika Serikat menjadi terganggu.
Dilansir Firstpost, beberapa nama besar seperti Daniil Medvedev, Andrey Rublev, dan Karen Khachanov termasuk di antara lebih dari 40 pemain yang masih berada di hotel resmi turnamen di Dubai.
Mereka sebelumnya tampil di Dubai Tennis Championships, yang finalnya bertepatan dengan pecahnya eskalasi militer di kawasan tersebut.
Ruang Udara Ditutup, Pemain Bertahan di Hotel
Ketegangan meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat-Israel ke sejumlah lokasi di Iran dibalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Ledakan dilaporkan terdengar di beberapa wilayah Teluk, termasuk Dubai, memicu penutupan wilayah udara secara mendadak.
Akibatnya, para pemain tidak dapat langsung terbang ke Amerika Serikat untuk mengikuti Indian Wells Open di California, AS yang babak utamanya dijadwalkan segera dimulai akhir pekan ini.
ATP sempat menawarkan jalur alternatif berupa perjalanan darat enam jam ke Oman atau 10 jam ke Riyadh, Arab Saudi, sebelum melanjutkan penerbangan internasional.
Namun, menurut laporan media Spanyol Marca, opsi tersebut ditolak para pemain karena dinilai berisiko, termasuk ketidakpastian situasi keamanan dan potensi antrean panjang di perbatasan.
ATP: Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Dalam pernyataan resminya, ATP menyebut terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan otoritas setempat.
Mereka memastikan para pemain dan staf yang masih berada di Dubai mendapatkan akomodasi serta kebutuhan dasar yang memadai di hotel resmi turnamen.
ATP juga menegaskan bahwa pengaturan perjalanan akan dilakukan berdasarkan rekomendasi keamanan terbaru dan kondisi operasional penerbangan.
Hingga kini, belum ada kepastian kapan para pemain tersebut bisa meninggalkan kawasan dengan aman.
Ancaman Absennya Unggulan




