Pariwisata Indonesia Pulih, Devisa Meningkat Jadi Penopang Ekonomi
Sumber Foto: UMY
Ekonomi

Pariwisata Indonesia Pulih, Devisa Meningkat Jadi Penopang Ekonomi

Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan pemulihan yang semakin solid. Ini ditunjukkan dengan kontribusi devisa yang terus meningkat sepanjang 2025. Di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, pariwisata dinilai menjadi salah satu sektor strategis. Mengingat, pariwisata mampu menopang penerimaan negara dan menggerakkan ekonomi daerah.

Dosen prodi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Diah Setyawati Dewanti, Ph.D. menyebutkan nilai ekonomi pariwisata Indonesia pada 2025 diproyeksikan mencapai Rp1.269,8 triliun, melonjak tajam dibandingkan periode sebelum pandemi.

“Dalam enam tahun terakhir, nilai ekonomi pariwisata meningkat sekitar 400 persen. Ini menunjukkan bahwa pariwisata kembali menjadi salah satu sumber penerimaan terbesar nasional,” ujar Diah pada Selasa (30/12).

Ia menjelaskan, kontribusi sektor pariwisata tidak hanya signifikan secara nasional. Pariwisata juga menjadi tulang punggung perekonomian di sejumlah daerah. Di DIY, misalnya, sektor pariwisata menyumbang sekitar 16,19 persen terhadap nilai total produksi. Ini sekaligus menegaskan perannya sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi lokal.

Dari sisi kunjungan, Diah menuturkan target wisatawan nasional pada 2025 telah tercapai, dengan jumlah perjalanan lintas daerah mencapai lebih dari satu miliar. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 10,9 juta orang. Angka tersebut sudah mendekati target tahunan sebesar 17-19 juta kunjungan.

“Jika tren ini berlanjut hingga akhir tahun, capaian wisatawan mancanegara 2025 akan menjadi pencapaian penting dan membuka ruang untuk menaikkan target di tahun-tahun berikutnya,” jelasnya.

Dalam pengembangan ke depan, Diah menekankan pentingnya penguatan halal tourism sebagai keunggulan kompetitif Indonesia. Ia menilai konsep wisata halal tidak semata berbasis aspek keagamaan. Konsep ini menitikberatkan pada kualitas pengalaman, kenyamanan layanan, serta kekayaan budaya dan sejarah lokal.

Menurutnya, pengemasan kuliner lokal dan pelestarian budaya, seperti yang dilakukan di Yogyakarta dan Bali, dapat memperkuat daya tarik destinasi sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat setempat.

“Halal tourism justru membuka peluang bagi penguatan UMKM, terutama di sektor kuliner dan ekonomi kreatif. Makanan lokal dan pengalaman budaya menjadi pertimbangan utama wisatawan,” pungkas Diah. (ID)

SDGs 8, SDGs 12