Menggali Kedisiplinan Ramadan Melalui Inspirasi Kevin
Sumber Foto: Kompasiana.com
Lifestyle

Menggali Kedisiplinan Ramadan Melalui Inspirasi Kevin

Kevin adalah antitesis dari diriku yang hobi menunda. Di usianya yang masih sangat muda, dia tahu betul cara menghargai waktu. Dia tidak punya waktu untuk scrolling tidak jelas karena setiap detiknya adalah perjuangan dan karya.

Melihat Kevin, aku merasa seperti raksasa yang tidak punya tulang punggung. Aku punya segala fasilitas, punya waktu luang, tapi aku menggunakannya untuk hal-hal yang tidak punya nilai kekekalan.

Rasa "iri" kepada Kevin inilah yang ingin kujadikan bahan bakar di Ramadan tahun ini. Aku cemburu pada kedisiplinannya. Aku cemburu pada produktivitasnya. Dan aku sadar, jika anak sekecil Kevin bisa sehebat itu, masa aku yang sudah "berumur" ini masih saja kalah sama tombol explore Instagram?

Strategi "Istiqomah Minimalis": Biar Sedikit, Asal Ada

Tahun ini, aku tidak mau muluk-muluk berjanji akan khatam Al-Qur'an sepuluh kali atau bangun malam sepanjang waktu. Pengalaman mengajarkanku bahwa janji yang terlalu tinggi biasanya berakhir dengan jatuh yang paling sakit. Aku ingin fokus pada satu kata: Istiqomah.

Prinsipku sederhana: Pertahankan yang sudah baik, jangan sampai berkurang, syukur-syukur bertambah.

1. Gencatan Senjata dengan Gadget: Aku ingin mencoba "puasa layar" setelah tarawih hingga Subuh. Ruang antara tarawih dan sahur adalah waktu yang krusial. Jika aku bisa mengganti scrolling dengan satu atau dua lembar ayat, itu sudah merupakan kemenangan besar.

2. Menjaga "Ritme" Sebelum Ramadan: Aku tidak ingin kaget saat Ramadan tiba. Apa yang sudah kulakukan sebelum Ramadan - mungkin salat tepat waktu atau sedekah recehan - ingin kupertahankan mati-matian. Jangan sampai karena puasa, kualitas kerjaku justru menurun dengan alasan "lemas".

3. Menjemput "Kevin" dalam Diriku: Setiap kali tanganku gatal ingin menunda pekerjaan atau ibadah, aku akan membayangkan wajah Kevin. Semangat juangnya harus menular.

Produktivitas bukan hanya soal duniawi, tapi juga soal bagaimana kita mengelola waktu yang diberikan Tuhan dengan penuh tanggung jawab.

Menjadi puitis itu mudah, tapi menjadi konsisten itu berdarah-darah. Aku ingin Ramadan kali ini terasa lebih "hidup". Aku ingin merasakan nikmatnya sujud tanpa rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mata.

Aku ingin berbuka puasa dengan rasa bangga karena seharian penuh aku benar-benar "hadir", bukan sekadar numpang lewat di sela-sela waktu tidur.

Ramadan bukan tentang seberapa banyak kita bisa memamerkan menu takjil di media sosial, tapi seberapa banyak kita bisa menaklukkan ego dan rasa malas di dalam diri sendiri.

Aku ingin memperbaiki cara pandangku terhadap waktu. Bahwa waktu subuh adalah waktu emas, bukan waktu untuk membalas dendam tidur yang hilang karena begadang tak berfaedah.