Mengatasi Doomscrolling untuk Ramadan yang Lebih Bermakna
Tak terasa esok sudah ramadan, tadi pun aktivitas sudah dimulai sedari salat isya berjamaah, lalu dilanjut dengan tarawih dan witir bersama. Ramadan, bagi sebagian orang adalah momen "spiritual recharge". Namun bagiku, jujur saja, dua tahun terakhir Ramadan terasa seperti kompetisi menahan kantuk yang gagal kumenangkan.
Bayang-bayang kegagalan itu kembali muncul: pola tidur yang berantakan, jempol yang menari liar di layar ponsel hingga larut malam, dan akhirnya, Subuh yang dilewati dengan mata seberat beton.
Tahun ini, aku ingin bicara jujur pada cermin. Aku tidak ingin lagi menjadi "zombie Ramadan" yang hanya pindah jam makan, tapi jiwanya tertinggal di lapak sosial media.
Jebakan "Scrolling" dan Ritual Subuh yang Kosong
Mari kita bicara tentang musuh terbesar umat beriman di abad ke-21: doomscrolling. Aku punya kebiasaan buruk yang sudah menetap selama dua tahun terakhir. Rencananya sih ingin menunggu waktu sahur dengan membaca sesuatu yang bermanfaat. Tapi apa daya, algoritma media sosial jauh lebih menggoda daripada niat suci di dalam dada.
Satu video kucing berubah menjadi perdebatan politik, lalu berlanjut ke tutorial masak yang tidak akan pernah kupraktikkan, hingga tiba-tiba adzan sahur berkumandang. Hasilnya? Kosong. Mataku perih, otaknya penuh sampah visual, dan hatinya terasa gersang.
Efek dominonya luar biasa. Sehabis Subuh, saat seharusnya menjadi waktu paling produktif untuk menjemput berkah, aku justru tumbang. Ngantuk berat.
Ibadah yang harusnya maksimal - minimal tadarus satu juz - jadi sekadar wacana yang menguap bersama uap kopi sahur yang mulai dingin. Kalau sudah begini, jangankan mau meningkat secara spiritual, mempertahankan kewajiban saja rasanya seperti mendaki Everest tanpa oksigen.
Di tengah rasa bersalah itu, memoriku terbang kembali pada sebuah tugas menulis maraton di Kompasiana beberapa waktu lalu. Aku ingat betul saat itu aku harus mewawancarai seorang anak luar biasa bernama Kevin. Aku bahkan memberi judul artikel itu dengan sangat emosional:"Produktif Sejak Dini, Semangat Juang Kevin Membuat Cemburu!".




