Mendorong Kemandirian Ekonomi Bulukumba di Tengah Pertumbuhan Sektor
Sumber Foto: Warta Bulukumba
Ekonomi

Mendorong Kemandirian Ekonomi Bulukumba di Tengah Pertumbuhan Sektor

Warta Bulukumba - Palu beradu dengan kayu, menghasilkan bunyi ritmis yang seolah mengingatkan pada masa lalu: sebuah daerah pelaut, pembuat perahu, penakluk ombak. Di pasar tradisional, pedagang sayur berteriak menawarkan dagangan, pembeli menawar dengan cepat, uang berpindah tangan tanpa jeda. Ekonomi terlihat hidup.

Namun di tengah riuh itu, ada pertanyaan yang lebih sunyi: siapa sebenarnya yang menikmati nilai tambah terbesar dari semua aktivitas ini?

Kamis, 26 Februari 2026, di sela wawancara yang berlangsung tenang namun serius, Ketua Umum KADIN Bulukumba, Syafruddin Mualla, mengajukan kegelisahan yang jarang dibicarakan secara terbuka.

“Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti kemandirian,” ujarnya.

Kalimat itu seperti rem mendadak di jalan menurun.

Ramai tidak sama dengan kuat

Menurut Syafruddin Mualla, Bulukumba tidak kekurangan potensi. Pertanian dan perkebunan produktif. Sektor perikanan dan kelautan hidup. Pariwisata berkembang pesat. Perdagangan bergerak. Industri dan jasa terus tumbuh.

Secara kasatmata, hampir semua sektor prioritas aktif.

Namun struktur ekonominya masih rapuh. Banyak hasil pertanian dan perkebunan dijual dalam bentuk mentah. Hasil laut belum sepenuhnya diolah di daerah sendiri. Pariwisata berkembang, tetapi produk lokal belum selalu menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri. Perdagangan berjalan, tetapi kerap hanya menjadi jalur distribusi barang dari luar.