Komunitas Bima Berjuang Menyelamatkan Elang Flores dari Ancaman Kepunahan
Sampai akhirnya mereka menjajaki sebuah hutan kecil di Desa Kowa, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima pada Juni 2024. Mereka menemukan sebuah sarang burung di ranting pohon. Burung yang belakangan mereka identifikasi sebagai satwa langka. Ya, Elang Flores atau dengan nama latin Spizaetus Floris. Elang yang tak lagi ditemukan di daerah yang namanya sama, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Sikap komunitas ini berubah, yang tadinya memburu satwa untuk diabadikan dalam bidikan kamera DSLR, kini jiwa mereka menjelma menjadi kelompok pemerhati satwa. Lebih dari itu, Sindikat menggeser aktivitas hariannya ke upaya penyelamatan Elang Flores.
Rasa keprihatinan mereka tergugah. Hutan yang tersisa beberapa gelintir pohon itu jadi rumah terakhir Elang Flores. Raptor tersebut semakin terancam akibat rendahnya pengetahuan warga soal satwa liar dilindungi. Mereka hanya ingin pohon itu ditebang untuk memperluas area tanaman jagung.
Jika pohon itu ditebang, maka tamat sudah riwayat Elang Flores. Satwa langka ini hanya akan dikenang pernah hinggap di pepohonan Bima. Komunitas sindikat akan diterpa rasa bersalah jika tak mampu selamatkan satwa ini.
Liputan ini menceritakan petualangan sekelompok pemuda dari pedesaan Kabupaten Bima dan Kota Bima yang bergabung, kemudian berjuang dalam penyelamatan satwa Elang Flores.
Mereka menghadapi tantangan yang berat. Warga dan petani yang setiap saat bisa menyerang mereka karena menghalangi perluasan lahan. Mereka juga berhadapan dengan lembeknya petugas yang tak mampu memberi perlindungan. Sindikat juga jadi barang dagangan program pemerintah untuk memvalidasi keberhasilan dalam urusan melindungi satwa. Ditambah buruknya batasan peta zonasi kawasan hutan dilindungi.




