Kesepian di Balik Keterhubungan Digital
Latar Media - RRI.CO.ID, Purwokerto: Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi secara signifikan. Namun di balik kemudahan berinteraksi melalui internet dan media sosial, muncul fenomena paradoks yang membuat masyarakat tampak aktif berkomunikasi tetapi justru merasa kesepian.
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap, Muhammad Ridwan, M.Sos., menyebut fenomena tersebut sebagai kondisi “berisik tetapi sepi” di dunia digital.
Menurutnya, era digital memungkinkan seseorang untuk mengirim pesan, foto, video, hingga opini kepada banyak orang secara cepat. Namun tingginya intensitas komunikasi digital tidak selalu diikuti dengan kedalaman hubungan interpersonal.
“Di era media sosial, orang bisa mengirim ratusan pesan atau unggahan dalam waktu singkat. Tetapi komunikasi yang terjadi sering kali tidak memiliki kedalaman emosional seperti komunikasi tatap muka,” ujar Muhammad Ridwan.
Ia menjelaskan bahwa komunikasi digital memang mempermudah pertukaran informasi, tetapi sering kali mengurangi unsur nonverbal seperti ekspresi wajah, intonasi suara, maupun sentuhan sosial yang menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan emosional.
Ridwan juga menyoroti fenomena “alone together”, yaitu kondisi ketika seseorang tetap merasa sendiri meskipun secara digital terhubung dengan banyak orang. Menurutnya, penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan jumlah interaksi daring, tetapi justru menurunkan kualitas komunikasi secara langsung.
Akibatnya, banyak individu mengalami rasa kesepian meskipun terlihat aktif di dunia digital. Kondisi ini bahkan dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti meningkatnya kecemasan, stres, hingga depresi.
Ia menambahkan, salah satu penyebab fenomena tersebut adalah keterbatasan komunikasi digital dalam menyampaikan pesan secara utuh, serta adanya fenomena filter bubble yang membuat seseorang hanya terpapar pada informasi yang sesuai dengan pandangannya sendiri.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ridwan menilai pentingnya meningkatkan literasi digital serta menjaga keseimbangan antara komunikasi digital dan interaksi tatap muka.
Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial, bukan menggantikan kedekatan manusia secara langsung.
Dengan penggunaan teknologi yang bijak, diharapkan masyarakat tetap dapat memanfaatkan kemajuan digital tanpa kehilangan kualitas hubungan sosial dan kedekatan emosional dalam kehidupan sehari-hari.




