Kepala Desa Lampung Sukses Beternak Ayam Pakoy Berbasis Hobi
Dalam sebulan, penjualan ayam Pakoy dipeternakan bernama Farm Erdogan itu bisa mencapai hampir 50 ekor, dengan sekali kirim hingga 10 ekor ayam berusia 6-7 bulan. Harga pun bervariasi, tergantung usia dan kualitas.
“Yang umur dua bulan bisa mulai Rp 500 ribu. Kalau yang sudah jadi, rawatan bagus, bisa Rp 2 juta sampai Rp 5 juta per ekor,” jelasnya.
Dari usaha ini, Sanjaya mengaku mampu meraih omzet ratusan juta rupiah per bulan, dengan penghasilan bersih di kisaran puluhan juta rupiah, setelah dikurangi biaya pakan dan gaji karyawan yang mengurus ratusan ayam setiap hari.
Perawatan ayam Pakoy dilakukan secara khusus. Setiap pagi, ayam diberi puding racikan alami dari kurma, telur puyuh, pisang, hingga jangkrik. Sementara pakannya diracik sendiri dari jagung Madura, kacang hijau, beras merah, padi putih, hingga jagung hasil kebunnya sendiri.
“Tujuannya supaya stamina ayam tetap bagus, badannya stabil, nggak kegemukan. Jadi ayam benar-benar fit,” ungkap dia.
Meski disibukkan dengan ternak, Sanjaya tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala desa. Baginya, usaha itu bukan sekadar bisnis, tapi juga bukti bahwa hobi, jika ditekuni dengan serius, bisa menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan.
“Yang penting konsisten dan sabar. Dari hobi, ternyata bisa bantu ekonomi keluarga dan buka lapangan kerja,” tutup dia.




