Kemenangan Indonesia di WTO: Apkasindo Ingatkan Pentingnya Fokus pada Produktivitas Sawit
Latar Media - Share
Pekanbaru, SAWIT INDONESIA – Kemenangan Indonesia atas kebijakan diskriminatif Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) dinilai sebagai momentum penting bagi industri sawit nasional.
Namun, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Dr. Gulat ME Manurung mengingatkan agar pemerintah dan pelaku industri tidak larut dalam euforia.
Menurut Gulat, ada dua strategi utama yang harus segera diperkuat setelah kemenangan Indonesia dalam sengketa melawan European Union tersebut.
Baca juga: Ini Pesan Menteri Bappenas Kepada Dirut Agrinas Palma Nusantara
“Pertama, pastikan diplomasi kita bekerja maksimal. Kedua, hilirisasi, ini yang paling penting,” ujar Gulat, Senin (2/3/2026).
Gulat menilai, tantangan terbesar saat ini justru berasal dari dalam negeri, terutama terkait ketersediaan bahan baku minyak sawit mentah (CPO).
“Kita saja di dalam negeri masih tarik-menarik untuk alokasi CPO. Ngapain kita capek-capek melawan kampanye Uni Eropa, tapi begitu menang, kita malah bingung untuk pasokan CPO kita,” tegasnya.
Baca juga: Purbaya Ungkap Dugaan Under Invoicing 10 Perusahaan CPO di Hadapan Prabowo
Karena itu, satu-satunya solusi jangka panjang adalah meningkatkan produktivitas perkebunan sawit rakyat.
Ia memaparkan, produktivitas kebun sawit rakyat saat ini masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 400–800 kilogram tandan buah segar (TBS) per hektare per bulan. Dengan kondisi tersebut, produksi hanya menghasilkan kurang dari 2 ton CPO per hektare per tahun.
Sebaliknya, melalui program Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), produktivitas bisa melonjak signifikan.
“Kalau sudah direplanting, produksinya bisa mencapai 6 sampai 7 ton CPO per hektare per tahun. Bahkan kebun hasil PSR sejak 2017–2018 sudah mampu menghasilkan 2,5 sampai 3,5 ton TBS per hektare per bulan,” jelasnya.
Baca juga: Tak Punya Pabrik Sawit, Petani Papua Barat Kebingungan Jual Sawit dari Kebun PSR
Gulat juga menyoroti realisasi PSR yang masih jauh dari target nasional. Saat ini, program tersebut baru mencapai sekitar 400 ribu hektare dari target 2,5 juta hektare.
Padahal, jika target tersebut tercapai, produksi CPO Indonesia diproyeksikan bisa mencapai 127 juta ton pada 2035.
1 2
Share. WhatsApp Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email Telegram
Previous Article Proyek Karbon di Sektor Pertanian Menjadi Peluang Ekonomi Baru
Next Article Limbah Sawit Jadi Senjata Baru Perajin, Ikan Sale Lebih Awet Tanpa Bahan Kimia
Berita Terkait
Harga TBS Mitra Plasma Riau Periode 27 Mei – 2 Juni 2026 Naik Menjadi Rp3.932,63/Kg
Berita Terbaru
APKASINDO Sambut Positif Hasil Rakor Harga TBS Sawit yang Dipimpin Wamentan
Berita Terbaru
Wamentan: DSI Tak Cari Untung, Ekspor Satu Pintu Supaya Transparan
Berita Terbaru
Ekspor SDA RI Harus Dilakukan 1 Pintu
Berita Terbaru
Produksi, Konsumsi dan Ekspor Menurun, Stok Meningkat
Berita Terbaru
Lampu Kuning Ketahanan Ekonomi Indonesia
Berita Terbaru
Gelar Rakor, Wamentan Sudaryono Cegah Anjloknya Harga TBS Sawit
Berita Terbaru
DSI Menjadi BUMN Ekspor Komoditas SDA
Berita Terbaru
APKASINDO Bergerak Cepat Menyikapi Anjloknya Harga TBS Pasca Kebijakan Ekspor CPO Satu Pintu
Berita Terbaru
Comments are closed.




