Janice Tjen Diharapkan Naik Secara Alamiah Tanpa Perbandingan Berlebihan
TAK hentinya penggemar tenis Indonesia terus membanding-bandingkan Janice Tjen dengan Alexandra Eala, petenis Filipina yang pekan ini begitu populer di Dubai.
Siapa pun pasti tak suka dibanding-bandingkan. Pihak penggemar Indonesia selalu menyebut Eala terus dimudahkan, para pendukungnya disebut terlalu beringas tidak mengikuti aturan penonton tenis dengan terus berteriak di antara dua servis. Melawan Eala berarti juga harus melawan ribuan pendukungnya, dll.
Apa pun, Eala yang hari ini akan bertanding di perempat final Dubai Open melawan bintang AS, Coco Gauff, nyatanya memang telah bermain sangat baik. Memberi tontonan yang menarik. Memenuhi segala keinginan penyelenggara di Dubai.
Jangan bandingkan dengan Janice yang baru September lalu bermain di WTA Tour, baru enam bulan! Sementara Eala sudah ikut tur WTA sejak tahun 2021, sudah jalan di tahun kelima.
Saya pribadi malah merasa khawatir ketika melihat kenyataan peringkat Janice melejit dengan cepat hingga mencapai big 100 dalam sekejap, dari September hingga akhir tahun lalu.
Dalam olahraga dikenal pemahaman lebih sulit mempertahankan daripada merebut. Janice akan mempertahankan prestasinya yang melesat ini di tahun keduanya dalam tur. Dan itu bukan sesuatu yang mudah.
Emma Raducanu telah memberi pelajaran pada kita, ketika ia menjadi juara di AS Terbuka 2021 saat peringkatnya masih 150 dunia. Ia berjuang dari babak kualifikasi sebelum akhirnya menjadi juara di seri Grand Slam keempat itu. Peringkatnya dari ke-150 langsung melesat ke-23 dunia. Dunianya langsung berubah, harapan penggemarnya langsung begitu tinggi pada dirinya. Ia bukan hanya hebat, tapi juga cantik. Tapi, ia tak pernah lagi menjuarai turnamen WTA Tour.
Maka, ketika Janice mengawali tahun ini dengan peningkatan peringkat yang merambat, saya merasa lega. Biarkan Janice mengambil nafas dengan rambatannya ini, punya waktu penyesuaian diri, punya waktu memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
Setiap kekalahan yang dialaminya pasti memberinya pelajaran berarti bukan hanya untuk mentalnya, strategi bertanding, tapi terlebih untuk mengenali kekurangan-kekurangannya.
Kita selalu belajar bahwa segala sesuatu yang instan tidaklah baik. Semua hasil baik dan akan berusia panjang selalu melalui proses, bahkan biasanya melalui proses yang panjang.
Jika kini Janice belum bisa menumbangkan petenis peringkat 10 besar dunia, sementara Eala bisa. Biarkanlah. Lawan Janice kan bukan Eala, tapi dirinya sendiri.
Janice sudah sangat luar biasa, bahkan dalam tiga pertandingan terakhir ia hanya bisa dihentikan oleh petenis peringkat 20 besar dunia. Semua yang dicapainya sudah sangat-sangat membanggakan, bahkan menggairahkan hidup kita.
Biarkan dia naik secara alamiah. Untuk mencapai prestasinya yang tertinggi...
Tyas Soemarto, Wartawan Olahraga Senior/Pengamat Tenis




