Industri Otomotif Nasional Dorong Kemandirian Produksi Kendaraan Pick Up
Sumber Foto: Kompas.com
Ekonomi

Industri Otomotif Nasional Dorong Kemandirian Produksi Kendaraan Pick Up

KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu penguatan industri otomotif nasional, khususnya pada segmen kendaraan niaga ringan jenis pick up, seiring kemampuan industri dalam negeri yang telah mampu memproduksi kendaraan tersebut dengan kapasitas besar.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, penguatan produksi kendaraan pick up dalam negeri memiliki dampak ekonomi signifikan bagi Indonesia.

Sebagai ilustrasi, ia menyampaikan, apabila pengadaan kendaraan pick up (4x2) sebanyak 70.000 unit dipenuhi oleh produk dalam negeri, maka akan memberikan dampak ekonomi (backward linkage) sekitar Rp 27 triliun.

Menurut Agus, jika kebutuhan kendaraan pick up dipenuhi melalui produksi dalam negeri, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati Indonesia.

Subsektor yang berkaitan langsung dengan produksi kendaraan pick up antara lain industri ban, kaca, baterai basah (aki), logam, kulit, plastik, kabel, serta elektronik.

“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri," ujar Agus dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (19/2/2026).

"Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri,” sambungnya.

Agus menjelaskan, saat ini industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi kendaraan pick up yang signifikan, yakni sekitar 1 juta unit per tahun.

Produsen kendaraan pick up di Indonesia, antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.

“Dengan kapasitas tersebut, industri kendaraan pick up nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global,” tegas Agus.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa standar dan kualitas kendaraan pick up (4x2) produksi dalam negeri sangat kompetitif dibandingkan produk impor.

Selain itu, produk lokal tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan operasional di berbagai wilayah Indonesia dengan kondisi infrastruktur jalan yang beragam.

Kendaraan niaga produksi dalam negeri juga telah diterima dengan baik oleh masyarakat dan pelaku usaha karena performanya dinilai andal serta mampu mendukung distribusi dan mobilitas barang.

Namun demikian, Agus mengakui Indonesia belum memproduksi tipe kendaraan pick up dengan spesifikasi penggerak empat roda (4x4) yang dirancang khusus untuk medan sangat berat, seperti di area pertambangan dan perkebunan.

Ia juga menegaskan, dari sisi efisiensi ekonomi, biaya perawatan kendaraan pick up (4x4) relatif lebih mahal, ketersediaan suku cadang dan layanan purnajual terbatas, serta harga jual kembali lebih rendah dibandingkan kendaraan pick up (4x2) yang telah diproduksi industri nasional.