Indef: Pertumbuhan Ekonomi 2025 Tertekan Oleh Lemahnya Konsumsi
Sumber Foto: Kompas.com
Ekonomi

Indef: Pertumbuhan Ekonomi 2025 Tertekan Oleh Lemahnya Konsumsi

JAKARTA, KOMPAS.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai melesetnya target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 berkaitan erat dengan lemahnya konsumsi. Konsumsi rumah tangga, sebagai penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB), dinilai belum pulih optimal.

“Kami menilai ini pertumbuhan yang tidak optimal ya, jadi konsumsi masih tertekan sampai sekarang,” ujar Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto secara virtual, Kamis (5/2/2026).

Eko menjelaskan konsumsi rumah tangga masih tumbuh secara nominal. Laju peningkatannya dinilai terbatas dan belum kembali ke level sebelum pandemi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada 2025 sebesar 4,98 persen. Angka ini naik tipis dari 4,94 persen pada 2024. Capaian tersebut masih jauh di bawah tren historis pra-pandemi, saat konsumsi rumah tangga mampu tumbuh di atas 5 persen.

Tekanan juga datang dari konsumsi pemerintah. Pada 2025, konsumsi pemerintah hanya tumbuh sekitar 2,5 persen. Angka ini turun tajam dibandingkan 2024 yang mencapai 6,7 persen.

Eko menilai perlambatan ini dipengaruhi ketidakjelasan strategi belanja pada awal tahun. Kebijakan efisiensi anggaran membuat banyak program tertahan dan baru digenjot menjelang akhir tahun.

“Nah, kalau kita lihat ya ini hal yang harus diubah. Kita berharap dari awal tahun belanja itu agak lebih kenceng, sehingga nanti itu bisa bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Perhatian pemerintah, menurut Eko, perlu diarahkan ke penguatan konsumsi rumah tangga. Kontribusi komponen ini paling besar terhadap PDB nasional.

Konsumsi sempat membaik pada triwulan IV 2025. Perbaikan ini mendorong pertumbuhan ekonomi kuartalan hingga 5,11 persen. Eko menilai momentum tersebut bersifat musiman karena dipicu libur Natal dan akhir tahun.

“Poinnya adalah konsumsi kita masih sakit, sehingga kemudian harus dilakukan upaya-upaya penyehatan,” tegas Eko.

Indef juga mencatat kinerja ekspor relatif konsisten tumbuh. Impor masih dapat ditekan. Secara struktural, perekonomian nasional dinilai belum banyak berubah.

Pulau Jawa masih mendominasi kontribusi terhadap PDB nasional di kisaran 56–57 persen. Kondisi ini mencerminkan tantangan pemerataan pembangunan antarwilayah.

Ke depan, Indef mendorong langkah yang lebih agresif dan terarah. Fokus diarahkan pada penguatan daya beli masyarakat, perbaikan kualitas belanja pemerintah sejak awal tahun, serta percepatan pembangunan luar Jawa agar pertumbuhan ekonomi tidak kembali meleset dari target.

“Ke depan bagaimana memastikan luar Jawa juga mengalami pembangunan yang sama gencarnya seperti di Jawa,” kata dia.