IDAI Ingatkan Bahaya Kecanduan Gadget pada Anak
Sumber Foto: Inilah.com
Lifestyle

IDAI Ingatkan Bahaya Kecanduan Gadget pada Anak

Jangan bangga dulu kalau anak anteng di depan layar. Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Farid Agung Rahmadi mewanti-wanti, jika anak sudah tak bisa hidup tanpa gadget, itu bukan lagi sekadar menikmati fasilitas tapi sudah masuk kategori kecanduan.

Menurut Farid, bedanya tipis tapi kontras. Anak yang masih waras menggunakan gawai biasanya bakal berhenti dengan sukarela tanpa drama saat waktu habis.

“Kalau hanya sekadar menikmati saja, ketika gadget-nya atau screen time-nya atau fasilitasnya ini sudah waktunya selesai, maka dia selesai dengan smooth. Tidak ada pertentangan, tidak ada saling tunda-menunda,” kata Farid dalam Seminar Media IDAI bertajuk "Gadget untuk Anak, Sebaiknya Mulai Usia Berapa?" dipantau di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Sebaliknya, kalau anak sudah kena sihir layar, ritual bangun tidurnya bakal berubah drastis. Alih-alih mencari sarapan atau menyapa orang tua, jemarinya langsung sibuk mencari perangkat elektronik.

“Begitu bangun tidur langsung TV-nya dibuka atau begitu bangun tidur langsung ambil handphone-nya,” ujarnya.

Ciri lain yang tak kalah ngeri adalah hilangnya daya kreativitas. Anak yang candu bakal terlihat "mati gaya" dan tak tahu harus berbuat apa jika tak ada gawai di tangan.

“Kalau tidak ada fasilitas itu, betul-betul tidak bisa ngapa-ngapain. Jadi kayak tidak punya alternatif kegiatan yang lain. Nah itu berarti sudah masuk kategori kecanduan juga,” ucap Farid.

Farid pun menyentil para raksasa teknologi yang merancang produk sesuka hati agar bikin ketagihan. Secara moral, industri harusnya ikut memikul dosa atas rusaknya tumbuh kembang anak, meski realitanya sering kali nol besar.

“Harusnya mereka ikut bertanggung jawab. Tapi tanggung jawab dari teknologi atau pembuat game tersebut atau industri teknologi tersebut ya, hanya akhirnya di atas kertas saja,” tuturnya.

Farid mengingatkan benteng terakhir ada di rumah. Jangan cuma bisa membelikan, orang tua harus punya nyali menetapkan batas dan memberikan alternatif aktivitas fisik demi menyelamatkan otak sang buah hati.

“Ketika sampai di keluarga kita, ya kita sendiri yang harus melakukan mitigasi itu,” pungkasnya.