IAI Dorong Penggunaan Baja untuk Infrastruktur Berkelanjutan di Indonesia
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mendorong penggunaan material baja sebagai solusi konstruksi yang lebih cepat, fleksibel, dan ramah lingkungan untuk mendukung kebutuhan infrastruktur nasional. Ketua Umum IAI, Georgius Budi Yulianto, menjelaskan bahwa transformasi baja telah berkembang dari material industri konvensional menjadi pilihan strategis yang relevan dengan tuntutan pembangunan modern.
Menurut Georgius, penggunaan baja kini bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan untuk menjawab target pembangunan yang cepat sekaligus menuntut durabilitas tinggi. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas profesi arsitek agar selaras dengan perkembangan pendekatan desain dan konstruksi.
“ Smarter architecture memerlukan smarter architect. Di dunia yang bergerak cepat, kita harus memilih material yang reasonable dalam hal kecepatan konstruksi, kemudahan modularitas, dan yang paling penting, memiliki proses keberlanjutan,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
Ia menambahkan, baja dipandang sebagai material yang “ramah kehidupan”. Dalam konteks Indonesia yang rawan bencana, baja menawarkan sistem konstruksi yang relatif ringan namun kuat, sehingga dinilai lebih adaptif terhadap berbagai kebutuhan struktur.
Sementara itu, panelis ASEAN Steel Architectural Awards 2026, Firman Setia Herwanto, menekankan pentingnya pelibatan arsitek dari seluruh Indonesia dalam mengembangkan teknik konstruksi baja yang sesuai dengan karakteristik lokal. IAI, kata dia, mendorong arsitek di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua untuk mengeksplorasi pendekatan yang mencerminkan kearifan lokal di masing-masing daerah.
“Baja sangat mungkin dikembangkan menjadi berbagai teknik konstruksi yang berbeda-beda. Kami tidak ingin inovasi hanya terpusat di Pulau Jawa. Keragaman pendekatan dari berbagai daerah justru akan menjadi nilai jual yang unik di kancah internasional,” jelas Firman.
Terkait ketersediaan baja berkualitas, IAI juga aktif mengedukasi arsitek dan publik melalui program Continuous Professional Development (CPD). Georgius mengingatkan bahwa tantangan utama bukan pada pasokan, melainkan pada konsistensi kualitas.
Karena itu, ia mengimbau agar pemilihan material tidak semata-mata berpatokan pada harga termurah dalam proses tender, melainkan mempertimbangkan value yang masuk akal untuk menjamin durabilitas bangunan dalam jangka panjang. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.




