Hillary Clinton Bantah Tahu Aktivitas Kriminal Epstein dan Maxwell
Sumber Foto: Tirto.id
Hukum

Hillary Clinton Bantah Tahu Aktivitas Kriminal Epstein dan Maxwell

Latar Media - tirto.id - Sebagai langkah penyelidikan lanjutan terkait dokumen dan jaringan terpidana kasus kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, Kongres Amerika Serikat memanggil sejumlah tokoh yang namanya muncul dalam dokumen Departemen Kehakiman (DOJ) termasuk mantan Presiden AS Bill Clinton dan mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton.

Setelah sempat menolak panggilan resmi (subpoena) dari komite tersebut dan menilai penyelidikan itu bermuatan politik, baik Bill maupun Hillary akhirnya setuju untuk memberikan kesaksian.

Hillary Clinton dijadwalkan memberikan keterangan lebih dahulu, disusul Bill Clinton keesokan harinya. Pada Kamis (26/2), Hillary memberikan kesaksian tertutup selama sekitar enam jam di Chappaqua, New York, dekat kediamannya.

Setelah keluar dari ruang sidang, ia menyampaikan kepada wartawan bahwa dirinya “tidak tahu sama sekali” mengenai aktivitas kriminal Epstein maupun rekannya, Ghislaine Maxwell.

Dalam pernyataan pembuka yang juga ia unggah di media sosial, Hillary menegaskan bahwa ia tidak pernah bertemu Epstein.

“Komite membenarkan pemanggilan saya berdasarkan asumsi bahwa saya memiliki informasi mengenai investigasi terhadap aktivitas kriminal Jeffrey Epstein dan Ghislaine Maxwell. Izinkan saya menjelaskan sejelas mungkin. Saya tidak memiliki informasi tersebut,” bunyi pernyataan pembuka tersebut.

“Seperti yang saya nyatakan dalam pernyataan sumpah saya pada tanggal 13 Januari, saya tidak tahu apa pun tentang aktivitas kriminal mereka. Saya tidak ingat pernah bertemu dengan Bapak Epstein. Saya tidak pernah terbang dengan pesawatnya atau mengunjungi pulau, rumah, atau kantornya. Saya tidak punya tambahan apa pun untuk itu,” jelasnya lagi.

Namun, Hillary dalam wawancaranya dengan BBC, mengaku pernah bertemu Maxwell beberapa kali, termasuk saat Maxwell menghadiri pernikahan putrinya, Chelsea Clinton, pada 2010.

Dalam keterangannya, Hillary juga mendesak agar Presiden saat ini, Donald Trump, dipanggil untuk memberikan kesaksian di bawah sumpah.

Ia menilai nama Trump kerap muncul dalam dokumen Epstein dan demi transparansi, semua pihak yang disebut seharusnya diperiksa secara terbuka. Baik Trump maupun keluarga Clinton sama-sama membantah melakukan pelanggaran terkait Epstein.

Sidang tertutup tersebut sempat dihentikan sementara setelah terjadi kebocoran foto dari dalam ruang pemeriksaan. Anggota Kongres dari Partai Republik, Lauren Boebert, mengakui mengirim foto Hillary Clinton dari dalam ruangan kepada seorang influencer konservatif.

Tindakan itu diprotes oleh anggota Demokrat karena dianggap melanggar aturan sidang tertutup. Tim Hillary kemudian meminta jeda untuk memastikan tidak ada pelanggaran aturan lain.

Di luar ruang sidang, sejumlah anggota Demokrat membela Hillary Clinton dan menyebut proses tersebut tidak menghasilkan informasi baru. Anggota DPR dari Partai Demokrat, Robert Garcia, mendesak agar transkrip lengkap dan tanpa edit dari kesaksian Hillary dipublikasikan dalam waktu 24 jam. Ia juga kembali menuntut agar Donald Trump segera dipanggil untuk bersaksi.

"Dan itu harus terjadi sekarang juga," tegasnya.

Ketua Komite Pengawasan DPR, James Comer, mengatakan bahwa upaya memanggil pasangan Clinton merupakan langkah untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang kebal hukum.

Ia mengakui bahwa butuh waktu tujuh bulan untuk menghadirkan Hillary Clinton dalam pemeriksaan dan menyatakan sebagian besar pertanyaan telah dijawab, meskipun ada beberapa jawaban yang dinilai belum memuaskan.

Bill Clinton dijadwalkan memberikan kesaksian pada Jumat (27/2). Jika terlaksana, ini akan menjadi pertama kalinya seorang mantan presiden AS memberikan kesaksian di hadapan panel Kongres sejak Gerald Ford melakukannya pada 1983.

Perlu digaris bawahi, meski nama sejumlah tokoh muncul dalam jutaan dokumen penyelidikan Jeffrey Epstein, kemunculan nama tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya keterlibatan dalam tindak kejahatan.