Hilirisasi Kelapa, Gambir, dan CPO Bisa Tambah Ekonomi Indonesia Hingga Rp20.000 Triliun
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengungkapkan potensi ekonomi yang masif dari hilirisasi tiga komoditas unggulan Indonesia: kelapa, gambir, dan crude palm oil (CPO). Dalam Sidang Dewan Pleno Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 2026 di Makassar, Amran menyebut nilai ekonomi dari pengolahan lebih lanjut ketiga komoditas ini bisa mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 triliun.
Angka fantastis tersebut, menurut Amran, setara dengan total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selama tujuh tahun. Ia menegaskan bahwa potensi ini bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah realitas yang bisa dicapai jika digarap dengan serius.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
“Kalau tiga komoditas saja kita hilirisasi serius, kelapa, gambir, dan CPO, itu bisa Rp15.000 sampai Rp20.000 triliun. Itu setara tujuh tahun APBN. Ini bukan mimpi, ini soal mau atau tidak,” kata Amran dikutip dari laman resmi Kementan.
Amran menjelaskan, Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia. Namun, selama ini ekspor kelapa masih didominasi oleh bahan mentah, yang mengakibatkan nilai tambah yang rendah. Harga kelapa di tingkat petani saat ini hanya sekitar Rp1.350 per butir. Padahal, jika kelapa diolah menjadi produk turunan seperti santan kelapa (coconut milk) dan air kelapa (coconut water), nilainya bisa meningkat hingga 100 kali lipat.
Sebagai gambaran, nilai ekspor kelapa Indonesia saat ini sekitar Rp24 triliun. Dengan hilirisasi penuh, potensi nilainya bisa melonjak drastis menjadi Rp2.400 triliun, bahkan berpeluang menembus Rp5.000 triliun.
Gambir dan Penguasaan Bahan Baku Dunia
Situasi serupa juga terjadi pada komoditas gambir. Indonesia menguasai sekitar 80 persen bahan baku gambir dunia. Namun, proses pengolahan lanjutan masih banyak dilakukan di luar negeri, sehingga nilai tambah yang seharusnya dinikmati oleh Indonesia justru berpindah ke negara lain.
Strategi Hilirisasi CPO
Di sektor CPO, Indonesia memegang kendali sekitar 60-70 persen pasar global. Amran mengemukakan strategi fleksibel antara ekspor dan penyerapan dalam negeri untuk biofuel dapat meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. “Kalau harga CPO rendah kita serap jadi biofuel dalam negeri, kalau tinggi kita ekspor. Sekarang nilainya Rp549 triliun, bisa jadi Rp1.500 triliun bahkan Rp5.000 triliun kalau hilirisasi penuh,” tutur Amran.
Hilirisasi sebagai Kunci Ekonomi
Amran menegaskan bahwa hilirisasi telah menjadi keharusan bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan bertransformasi menjadi pemain utama ekonomi dunia. Dalam forum tersebut, ia juga mengajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk mengambil peran strategis dalam transformasi ekonomi nasional berbasis nilai tambah.
Menurut Amran, keberanian generasi pengusaha muda menjadi kunci agar Indonesia tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah, tetapi menjadi produsen produk olahan bernilai tinggi yang mampu menggerakkan ekonomi nasional secara signifikan. Mureks merangkum, potensi peningkatan nilai ekonomi dari hilirisasi ketiga komoditas tersebut sangat signifikan, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut:




