Gwen: Seniman Cilik Berbakat dari Kalsel yang Menginspirasi
Latar Media - POJOKBANUA, BARABAI – Di atas selembar kertas putih, tangan kecil itu bergerak perlahan. Garis demi garis terbentuk, kemudian warna-warna cerah mulai menghidupkan gambar yang awalnya hanya sketsa sederhana. Bagi Leanna Gwen Valerie, menggambar bukan sekadar hobi, melainkan cara bercerita dan mengekspresikan imajinasi.
Siswi kelas 4 SD Kristen Kanaan Banjarmasin ini dikenal sebagai salah satu seniman cilik berbakat dari Kalimantan Selatan. Lahir di Banjarmasin pada 18 Januari 2016, Gwen sudah akrab dengan pensil warna sejak usia sangat muda. Menggambar, melukis, dan mewarnai kini menjadi bagian penting dari kesehariannya.
“Aku sudah suka menggambar dari kecil. Dari TK aku sering menggambar dan mewarnai. Tapi baru sekitar setahun ini aku aktif berlatih setiap hari dan rutin ikut lomba,” ujar Gwen.
Bagi Gwen, proses membuat gambar bukan sekadar menggambar garis di atas kertas. Ia menikmati setiap tahapnya, terutama saat memberi warna pada karya yang dibuat.
“Yang paling aku suka itu waktu mewarnai. Aku suka melihat gambarnya jadi lebih hidup setelah diberi warna,” katanya.
Inspirasi gambar yang dibuat Gwen pun datang dari berbagai hal yang ia temui di sekitarnya.
“Kadang dari imajinasi aku sendiri. Kadang juga dari alam, hewan, atau cerita yang aku lihat karena aku suka sekali dengan alam dan hewan dari kecil,” ungkapnya.
Proses Panjang di Balik Sebuah Karya
Di balik gambar-gambar indah yang dihasilkan, Gwen mengaku proses membuat sebuah karya tidak selalu mudah. Justru bagian tersulit sering kali berada pada tahap awal.
“Membuat sebuah karya itu sangat sulit, karena memikirkan konsepnya itu lebih lama daripada mewarnainya,” jelasnya.
Beberapa karya bahkan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk diselesaikan.
“Ada karya yang butuh waktu 12 jam, bahkan ada yang sampai 5 hari untuk membuatnya. Bukan hanya karena juaranya, tapi karena proses membuatnya,” kata Gwen.
Kesabaran dan ketekunan tersebut perlahan membuahkan hasil. Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah ketika Gwen mewakili Kalimantan Selatan dan berhasil masuk 6 besar grand final ajang nasional KFC x Agatis.
Prestasi itu menjadi pengalaman berharga bagi Gwen dalam perjalanan kreatifnya.
Karya yang Menginspirasi Banyak Orang
Selain aktif mengikuti lomba, Gwen juga dikenal melalui konten proses menggambar yang dibagikan di media sosial, khususnya TikTok (@gwen.v.art)
dan Instagram (@gwen.v__arts).
Tidak disangka, video-video tersebut ternyata mendapat perhatian besar dari banyak orang.
“Aku senang sekali. Rasanya seperti banyak orang ikut melihat gambar yang aku buat. Bahkan katanya ada yang tadinya malas latihan jadi rajin menggambar karena sering melihat kontenku,” tuturnya dengan senyum.
Respon positif itu membuat Gwen semakin bersemangat untuk terus berkarya.
Dalam perjalanan belajarnya, Gwen juga memiliki sosok seniman yang ia kagumi.
“Aku suka karya Kak Erika Richardo. Gambarnya detail dan warnanya bagus sekali. Aku jadi ingin belajar supaya gambarku juga bisa semakin bagus,” katanya.
Pesan untuk Teman-Teman Seusianya
Meski masih berusia 10 tahun, Gwen sudah memiliki pandangan sederhana namun kuat tentang proses belajar dalam seni.
Ia pun menyampaikan pesan bagi teman-teman seusianya yang juga memiliki hobi menggambar atau membuat karya.
“Kalau suka menggambar atau membuat sesuatu, jangan takut mencoba. Terus latihan dan jangan menyerah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kalah dalam lomba bukanlah akhir dari segalanya.
“Kalau kalah lomba juga jangan sedih, karena seni itu tidak ada batasnya. Kalah belum tentu berarti gambar kita jelek, mungkin hanya belum waktunya saja,” tambahnya.
Peran Orang Tua di Balik Perjalanan Gwen
Di balik perjalanan Gwen, ada peran besar orang tua yang terus memberikan dukungan. Sang ibu, Monica, seorang wiraswasta kelahiran Banjarmasin 2 Februari 1994, mengaku sejak kecil Gwen memang sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia gambar.
“Sejak TK Gwen memang sudah suka menggambar kartun atau hewan lucu dan mewarnai. Bahkan tidak pernah diajarin, semuanya dari imajinasinya sendiri,” ujarnya.
Awalnya, aktivitas tersebut hanya menjadi kegiatan biasa di rumah maupun di sekolah. Namun seiring waktu, Monica melihat keseriusan Gwen dalam mengembangkan kemampuannya.
“Ketika melihat Gwen mulai serius memperhatikan detail gambar dan warna, dari situ kami merasa minat ini perlu didukung supaya dia bisa terus berkembang,” katanya.
Sebelum benar-benar serius menekuni dunia seni, orang tua Gwen sempat menanyakan langsung kepadanya.
“Waktu itu kami tanya apakah dia serius mau terjun di dunia seni. Dia jawab, iya,” ujar Monica.
Dari Dokumentasi Keluarga Menjadi Konten yang Disukai
Perjalanan Gwen di media sosial pun bermula dari hal yang sangat sederhana. Monica dan keluarga hanya ingin mendokumentasikan proses kreatif Gwen di rumah.
“Awalnya dari kami sebagai orang tua yang mendokumentasikan proses Gwen menggambar dan mewarnai. Kami pikir sayang kalau hanya disimpan sendiri, jadi sekalian dibagikan di TikTok,” jelas Monica.
Tidak ada target khusus saat itu. Mereka hanya ingin berbagi pengalaman.
“Awalnya hanya sharing pengalaman Gwen, ternyata banyak teman-teman yang sehobi suka dengan konten-kontennya,” katanya.
Kini, akun media sosial Gwen bahkan mulai dilirik oleh beberapa brand besar.
Menjaga Keseimbangan Sekolah dan Kreativitas
Meski aktif berkarya dan membuat konten, keluarga tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.
“Sekolah tetap nomor satu. Biasanya setelah pulang sekolah Gwen meluangkan waktu untuk menggambar atau berlatih,” ujar Monica.
Di rumah, Gwen tetap memiliki waktu bermain seperti anak-anak lainnya. Namun orang tua berusaha menanamkan kedisiplinan sejak dini.
“Kami mencoba menanamkan kedisiplinan kepada anak-anak. Kalau ingin berkembang di suatu bidang, perlu latihan yang konsisten dan tidak setengah-setengah,” jelasnya.
Belajar dari Komentar di Media Sosial
Sebagai kreator muda di media sosial, Gwen juga tidak lepas dari berbagai komentar. Namun keluarga berusaha menyikapinya dengan bijak.
“Di media sosial tentu ada berbagai komentar. Kami mencoba menyikapinya dengan bijak dan lebih fokus pada hal-hal positif yang bisa membuat Gwen semakin semangat berkarya,” kata Monica.
Menurutnya, dukungan lingkungan sangat penting bagi anak yang sedang berkembang.
“Yang paling penting adalah dukungan dari keluarga dan lingkungan yang positif. Anak perlu merasa didukung, bukan ditekan,” ujarnya.
Dalam setiap lomba yang diikuti Gwen, keluarga selalu menanamkan satu hal penting: kalah adalah bagian dari proses belajar.
“Setiap lomba Gwen selalu kami ingatkan bahwa kalah itu bagian dari proses. Jadikan itu sebagai motivasi untuk belajar lebih giat lagi,” tuturnya.
Harapan untuk Masa Depan
Ke depan, keluarga berharap Gwen bisa terus menikmati proses berkarya tanpa tekanan.
“Kami berharap Gwen bisa terus menikmati proses berkarya. Apapun jalannya nanti, yang penting dia tetap mencintai apa yang dia lakukan,” kata Monica.
Ia bahkan sempat bercanda sekaligus bermimpi suatu hari Gwen bisa melanjutkan pendidikan di bidang seni.
“Kami pernah bercanda sekaligus bermimpi suatu hari nanti Gwen bisa kuliah di ITB jurusan DKV. Gwen sendiri juga terlihat senang mendengarnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun bagi keluarga, yang terpenting saat ini adalah memberikan ruang bagi Gwen untuk belajar dan berkembang.
“Untuk sekarang yang penting Gwen bisa terus belajar, menikmati proses berkarya, dan mencoba berbagai pengalaman. Ke depan biarlah waktu yang menentukan jalan terbaik untuknya,” pungkas Monica. (AS/KW)




