Eva Susana Ubah Hobi Menjahit Jadi Bisnis Kerajinan di Masa Pandemi
Latar Media - Ringkasan Berita:
Eva Susana pemilik BunQee Craft and Fashion menceritakan usahanya dimulai dari hobi menjahit.
Hobi itu terus ia tekuni hingga berkembang menjadi bisnis kerajinan dengan puluhan produk dan jaringan penjualan ke berbagai daerah.
Eva Susana membangun BunQee Craft di tengah badai pandemi Covid-19.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di sebuah galeri yang dipenuhi tumpukan kerajinan khas Lampung, seorang wanita dengan pakaian wastra memegang slimbag sambil menceritakan perjalanan jatuh bangunnya dalam merintis usaha.
Momen tersebut berlangsung di Galeri BunQee yang berlokasi di daerah Kemiling, Bandar Lampung, pada Jumat (6/3/2025).
Eva Susana pemilik BunQee Craft and Fashion menceritakan usahanya dimulai dari hobi menjahit. Hobi tersebut ia dapatkan sebab sering melihat sang ibu menjahit baju.
Hobi itu terus ia tekuni hingga berkembang menjadi bisnis kerajinan dengan puluhan produk dan jaringan penjualan ke berbagai daerah.
Nama BunQee sendiri memiliki cerita tersendiri. Awalnya berasal dari panggilan untuk anaknya, Saskia, yang biasa dipanggil “BunKi”. Dari situlah nama usaha tersebut kemudian dimodifikasi menjadi BunQee.
Sebelum menekuni kerajinan khas Lampung, Eva sempat mencoba berbagai usaha kuliner, mulai dari soto, pecel, hingga mie ayam.
Namun, usaha tersebut tidak bertahan lama. Pada 2019 ia membuka usaha kopi dan kuliner di kawasan Gunung Kucing, tetapi pandemi Covid-19 memaksanya menutup usaha tersebut.
“Awalnya ini cuma hobi menjahit di rumah. Tapi waktu pandemi, orang banyak butuh masker. Saya coba buat sendiri, ternyata pesanan sampai seribu pcs/hari,” ujar Eva Jumat (6/3/2025).
Ia mengatakan bahwa masker yang ia produksi adalah masker kain dengan sentuhan motif tapis.
Permintaan masker yang melonjak saat itu menjadi titik balik dari usahanya.
Dari rumah, Eva mulai menerima pesanan dalam jumlah besar, bahkan dari instansi pemerintah yang membutuhkan masker untuk kegiatan pelatihan.
Awalnya ia mengerjakan pesanan sendiri. Namun ketika pesanan mencapai ratusan dalam waktu singkat, ia mulai menggandeng penjahit lain sebagai mitra produksi.
“Kalau pesanan kecil masih bisa sendiri. Tapi kalau sudah 100 dalam dua atau tiga hari, tidak mungkin dikerjakan sendiri. Sekarang saya punya dua penjahit tetap, kalau pesanan banyak bisa sampai sepuluh orang,” katanya.
Seiring waktu, BunQee Craft tidak lagi hanya memproduksi masker, namun juga ke kain tapis hingga pengembangan lainnya.
Eva mulai mengembangkan berbagai produk kerajinan dan souvenir berbahan kain, seperti dompet, tas, kopiah, tanjak, kotak tisu, hingga gantungan kunci.




